Tingkat inflasi nasional pada Juni naik menjadi 3,34 persen dari 3,03 persen pada bulan sebelumnya. Namun ekonom Ferry Latuhihin menilai angka yang lebih mengkhawatirkan justru terjadi pada komponen pangan, yang diperkirakan sudah melampaui 7 persen.
Ferry menjelaskan bahwa inflasi pangan berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat dan berpotensi menggerus daya beli publik lebih besar dibandingkan inflasi umum. Kelompok yang paling rentan terdampak adalah masyarakat kelas menengah ke bawah.
Ia mengaitkan tren kenaikan harga pangan ini dengan rangkaian data ekonomi negatif lain yang muncul dalam sepekan terakhir, termasuk anjloknya PMI manufaktur dan defisit neraca dagang. Menurutnya, itu semua menjadi indikasi bahwa perekonomian domestik sedang menghadapi tekanan dari berbagai arah secara bersamaan.
Ferry juga meragukan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama sebesar 5,61 persen yang sempat digaungkan Kementerian Keuangan. Menurutnya, pertumbuhan tersebut ditopang oleh belanja pemerintah yang melonjak drastis, sehingga rentan melambat pada kuartal-kuartal berikutnya jika ruang fiskal semakin terbatas.
"Saya tidak yakin ekonomi kita berada dalam posisi yang baik-baik saja," kata Ferry di kanal YouTube-nya yang diunggah Ahad (5/7/2026).
Artikel Terkait
Menjaga Stabilitas Harga di Tengah Ketidakpastian
Ekonom Soroti Inefisiensi Birokrasi dan Ketidakpastian Regulasi Hambat Daya Saing
PMI Manufaktur RI Merosot ke 46,9, Ekonom Peringatkan Gelombang PHK
Rupiah Berpotensi Menguat ke Rp16.500-Rp16.800, Skenario Terburuk Tembus Rp20.000