Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp16.500 hingga Rp16.800 per dolar AS dalam skenario moderat hingga optimistis. Proyeksi itu disampaikan oleh ekonom Universitas Indonesia, Prof. Telisa Falianty, yang menilai meredanya tensi geopolitik global dan tren penurunan harga minyak dunia menjadi faktor pendorong penguatan.
Namun, Telisa mengingatkan bahwa skenario terburuk masih mungkin terjadi. Rupiah bisa melemah hingga Rp19.000-Rp20.000 per dolar AS apabila Indonesia gagal menjaga soliditas kebijakan, sinergi fiskal-moneter melemah, dan pemerintah tidak terbuka terhadap masukan publik. Hal itu ia sampaikan dalam podcast INDEF yang tayang pada Kamis (2/7/2026).
Dari sisi fiskal, Telisa mengapresiasi langkah pemerintah yang mulai melakukan evaluasi menyeluruh terhadap alokasi anggaran program prioritas nasional pascakasus dugaan korupsi. Ia menilai langkah itu sebagai sinyal positif konsistensi kebijakan dan dapat mengembalikan kepercayaan investor.
Sementara itu, inflasi diperkirakan masih dapat terjaga di kisaran 3 hingga 3,5 persen, sesuai target 2,5±1 persen, jika kondisi kondusif. Namun, inflasi berpotensi tembus di atas 4 persen jika sentimen negatif dan ketidaksolidan domestik terus berlanjut. Bank Dunia sendiri telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi 5 persen, di bawah target pemerintah sebesar 5,6 hingga 5,8 persen.
Artikel Terkait
IHSG Ditutup Menguat 0,68% ke 5.916,07, Rupiah Melemah ke Rp17.985 per Dolar AS
IHSG Ditutup Melemah, Rupiah Tertekan ke Rp 17.993 per Dolar AS
IHSG Diprediksi Konsolidasi, Pelaku Pasar Diminta Waspada
Pelemahan Rupiah Bukan Sekadar Ekonomi, tapi Soal Institusi dan Regulasi