Pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini tidak semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi. Menurut ekonom senior, Prof. Telisa Falianty, akar persoalannya justru terletak pada kelemahan institusi dan regulasi yang belum kokoh. Ia menilai Indonesia masih terus berbenah, namun belum menemukan bentuk kelembagaan yang solid untuk menjaga stabilitas.
Dalam pandangan investor asing, fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya tidak buruk. Negara ini didukung oleh bonus demografi, modal sosial yang tinggi, serta ketahanan menghadapi krisis yang sudah teruji sejak 1997-1998 hingga pandemi Covid-19. Namun, Telisa menyebut Indonesia dinilai "tidak jelek-jelek amat, tapi juga tidak bagus-bagus amat" jika dibandingkan dengan negara seperti Vietnam dan Malaysia.
Ia mencontohkan Iran yang tetap mampu tumbuh 3-4 persen di tengah embargo dan perang, karena memiliki institusi dan regulasi yang kuat. "Iran itu bukan suatu negara, tapi suatu peradaban," ujarnya mengutip pandangan seorang kolega, dalam podcast INDEF yang tayang Kamis (2/7/2026).
Telisa menambahkan, selama masyarakat Indonesia sendiri belum solid dan kompak, celah bagi spekulan untuk mempermainkan arus modal akan tetap terbuka lebar.
Artikel Terkait
Pelemahan Rupiah: Antara Stabilitas Moneter dan Reformasi Struktural
IHSG Melonjak 2,26% ke 5.875,78, Rupiah Menguat ke Rp17.945 per Dolar AS
Rupiah Melemah ke Rp17.995 per USD, Tertekan Sentimen Negatif Domestik dan Global
IHSG Menguat 1,7% ke 5.792,17 pada Sesi I, Rupiah Melemah