Gelombang Panas Ekstrem di AS Tewaskan 25 Orang, 140 Juta Warga Masih Terancam

- Senin, 06 Juli 2026 | 18:12 WIB
Gelombang Panas Ekstrem di AS Tewaskan 25 Orang, 140 Juta Warga Masih Terancam

Gelombang panas ekstrem yang melanda Amerika Serikat telah menewaskan sedikitnya 25 orang. Lebih dari 140 juta warga masih berada di bawah peringatan cuaca panas ekstrem, dengan suhu mencapai rekor di sejumlah wilayah.

Sebagian besar korban jiwa tercatat di Negara Bagian New Jersey, dengan 22 kematian. Korban lainnya dilaporkan berasal dari Illinois dan Mississippi. Otoritas setempat menyebut sebagian korban ditemukan di rumah tanpa pendingin ruangan, sementara lainnya meninggal setelah terpapar suhu ekstrem di luar ruangan maupun di dalam kendaraan.

Gelombang panas ini juga mengganggu rangkaian perayaan 250 tahun Kemerdekaan AS pada Sabtu (4/7) lalu. Di Washington DC, suhu mencapai sekitar 39,4 derajat Celsius, menjadi rekor tertinggi untuk tanggal 4 Juli. Cuaca ekstrem membuat sejumlah parade dan acara publik dibatalkan. Ribuan orang yang hendak menghadiri pidato Presiden Donald Trump di National Mall sempat dievakuasi akibat badai petir sebelum akhirnya diizinkan kembali masuk setelah cuaca membaik.

Meski demikian, sebagian warga tetap bertahan menghadiri perayaan. Seorang pensiunan pegawai negeri asal Washington, Randy Cole, mengatakan cuaca panas bukan alasan untuk melewatkan momen tersebut. "Mengalami sedikit panas tidak seberapa dibanding pengorbanan banyak orang yang telah memberikan kebebasan bagi negara yang luar biasa ini," ujar Cole.

Layanan Cuaca Nasional AS (NWS) menyebut lebih dari 140 juta warga Amerika masih berada di bawah peringatan cuaca panas ekstrem. Para ilmuwan iklim menilai gelombang panas yang semakin sering dan intens dipengaruhi oleh perubahan iklim, sebagai dampak dari pemanasan global yang terus meningkat.

"Perubahan iklim membuat gelombang panas menjadi lebih sering terjadi, lebih intens, dan berlangsung lebih lama," kata Michael Mann, ilmuwan iklim dari University of Pennsylvania. Selain suhu siang yang tinggi, suhu malam yang tetap panas membuat tubuh sulit mendingin sehingga meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga sengatan panas yang dapat berakibat fatal.

Otoritas kesehatan pun mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, memperbanyak minum air putih, serta memanfaatkan ruangan berpendingin untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat cuaca ekstrem.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags