Peringkat Jakarta sebagai kota global terus merangkak naik. Kini, ibu kota berada di posisi 53 dari 100 kota besar dunia, melampaui Washington DC di Amerika Serikat dan Abu Dhabi di Uni Emirat Arab.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan, capaian ini merupakan hasil survei lembaga internasional yang berpusat di Brussel. "Ketika saya dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu indeks kota globalnya nomor 74 dan alhamdulillah dalam 10 bulan naik menjadi 71. Dan 2-3 minggu yang lalu dilakukan survei oleh lembaga internasional yang berpusat di Brussels, kota-kota ibu kota dunia, dari 100 kota dunia, Jakarta ranking 53," ujarnya dalam sambutan pada pembukaan Jakarta Kreatif Festival (JKF) 2026 di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (4/7/2026).
Pramono menilai peningkatan ini signifikan dan menunjukkan posisi Jakarta yang semakin diperhitungkan di kancah global. "Dan Jakarta lebih bagus dari Washington DC, yang penting itulah. Lebih bagus juga dari Abu Dhabi dan sebagainya," tuturnya.
Menurut Pramono, Jakarta harus terus menjaga statusnya sebagai kota global dan pusat perekonomian nasional. Ia menekankan bahwa Jakarta memiliki karakter berbeda dari kota lain di Indonesia karena perannya sebagai etalase dan role model. "Jakarta adalah etalase atau role model. Dan inilah yang harus dijaga bersama-sama sebagai kota global dan pusat perekonomian nasional," kata dia.
Selain peringkat global, kontribusi Jakarta terhadap perekonomian nasional juga meningkat. Pramono menyebutkan, kontribusi Jakarta naik dari 16,16 persen menjadi 16,67 persen. "Ada kenaikan yang cukup signifikan kurang lebih 0,5 persen. Dan relatif pertumbuhan ekonomi Jakarta stabil, inflasinya jauh lebih rendah dari inflasi nasional. Inilah yang harus kita jaga bersama-sama," ucapnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menambahkan bahwa Jakarta memegang peran kunci bagi perekonomian nasional. "16,67 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia disumbang oleh Jakarta. Sekitar seperlima inflasi nasional bergantung dari stabilitas harga di Jakarta. Dengan demikian, menjaga Jakarta berarti menjaga Indonesia," ujar Iwan.
Iwan juga menyoroti potensi ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan baru bagi Jakarta. Sektor ini dinilai mampu menciptakan nilai tambah melalui ide, inovasi, kreativitas, teknologi, dan budaya. "Kota-kota besar di dunia kita saksikan seperti London, Paris, New York, Seoul, Tokyo, dan Beijing telah membuktikan bahwa ekonomi kreatif mampu menciptakan lapangan kerja baru, menarik investasi, mendorong pariwisata, mentransformasi ruang-ruang kota menjadi lebih menarik dan inovatif, yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas di seluruh sektor ekonomi," kata dia.
Artikel Terkait
Pramono Anung Tegaskan Penanganan Pengungsi WNA di Trotoar Bukan Kewenangan Pemprov DKI
Jakarta Naik ke Peringkat 53 Kota Terbaik Dunia, Kalahkan Washington DC dan Abu Dhabi
Transaksi QRIS Jakarta Capai 38 Persen Nasional, 153 Pasar Gunakan Pembayaran Digital
Transaksi Digital Jakarta Tembus Rp2,4 Triliun saat HUT ke-499, QRIS Kuasai 38% Nasional