Donald Trump dan kubu Republik kembali mengangkat isu komunisme sebagai senjata politik menjelang pemilihan sela November mendatang. Dalam sepekan terakhir, Trump secara terbuka menyebut kebangkitan sayap kiri Partai Demokrat sebagai gerakan komunis yang ingin menghancurkan cara hidup tradisional Amerika dan bahkan terlibat dalam pembunuhan politik.
Wakil Presiden JD Vance turut menyuarakan kekhawatiran serupa, menyebut pergeseran politik ke arah komunisme belum pernah terlihat di Amerika Serikat. Ketua DPR Mike Johnson juga mengecam kandidat radikal yang secara terang-terangan mengidentifikasi diri sebagai Marxis.
Fokus ideologis ini sengaja mencampuradukkan konsep sosialisme demokratis dengan komunisme yang menghapus kepemilikan pribadi. Narasi tersebut mulai digencarkan sejak Zohran Mamdani, seorang sosialis demokratis, memenangkan nominasi Demokrat untuk Wali Kota New York tahun lalu. Serangan semakin intensif setelah kelompok sosialis demokratis memenangkan beberapa pemilihan primer kongres di New York City pekan lalu, diikuti kemenangan Melat Kiros di Denver.
“Demokrat membuat hal ini menjadi mudah bagi kami,” ujar Richard Hudson, perwakilan Republik dari Carolina Utara. Ia menilai Demokrat mencalonkan kelompok liberal ekstrem yang sudah tidak sejalan dengan arus utama partai mereka sendiri.
Strategi ini dijalankan di tengah upaya Republik mempertahankan mayoritas tipis kursi parlemen. Namun, risiko mengabaikan frustrasi publik terhadap kapitalisme tanpa batas, terutama di kalangan pemilih muda, cukup besar. Isu ini memberi Republik peluang untuk mengalihkan pembicaraan dari dampak keputusan Trump yang memicu perang dengan Iran.
Aktivis konservatif Ralph Reed mengakui tekanan berat yang dihadapi Republik tahun ini. Namun, rentetan kemenangan sosialis demokratis dinilai menguntungkan untuk menyajikan kontras antara akal sehat dan kegilaan.
Dorongan baru ini berpotensi memicu ketegangan internal di kubu Demokrat, yang selama ini disatukan oleh kebencian terhadap Trump. Pemilihan primer menjadi ajang pertarungan antara kelompok sentris dan sayap kiri. “Banyak kemarahan ini telah mendidih di bawah permukaan,” ujar Joseph Geevarghese, Direktur Eksekutif Our Revolution, gerakan yang didirikan Senator Bernie Sanders.
Sebaliknya, anggota DPR dari kelompok sentris Demokrat, Josh Gottheimer, menyebut kemenangan sayap kiri di Colorado dan New York sebagai penyimpangan. “Kita harus berjuang sekuat tenaga untuk menjaga partai kita agar tidak dibajak oleh kaum sosialis,” tegasnya.
Di sisi lain, Jaksa Agung Nevada Aaron Ford berhasil mengalahkan rival progresifnya dalam bursa pencalonan gubernur dari Demokrat. Ia menegaskan bahwa kandidat seperti di New York tidak mewakili seluruh wajah Demokrat. Suzan DelBene, ketua komite kampanye Demokrat, menyebut serangan Republik hanya putus asa dan tidak menyentuh isu ekonomi riil.
Strategi Trump terancam meleset karena penerimaan publik terhadap kapitalisme melemah. Jajak pendapat Gallup pada Agustus menunjukkan hanya 54% orang dewasa AS memiliki pandangan positif terhadap kapitalisme. Di kalangan Demokrat, angka itu turun menjadi 42%, sementara 66% memandang sosialisme secara positif. Pola ini digerakkan oleh pemilih Demokrat di bawah 50 tahun.
“Pemilih muda yang mendorong energi elektoral saat ini tumbuh di dunia pasca-Soviet,” kata Geevarghese. Menurutnya, serangan isu komunisme usang ala Trump tidak lagi mempan bagi generasi baru.
Richard Hudson mengakui narasi anti-komunisme mungkin tidak bergaung sama di semua lapisan pemilih, sehingga Republik perlu menyesuaikan pesan kampanye di setiap distrik. Meski demikian, argumen tersebut tetap menjadi fokus Trump saat mengunjungi Perpustakaan Kepresidenan Theodore Roosevelt. Ia menyebut komunisme sebagai ancaman terbesar bagi negara, melebihi perang dunia dan serangan 11 September. “Ini seperti kanker yang menyebar cepat,” ujarnya.
Beverly Gage, profesor sejarah di Universitas Yale, menilai bangkitnya politik anti-komunisme saat ini menarik. Ia menyoroti pengaruh masa lalu Trump dengan Roy Cohn, yang pernah bekerja untuk Senator kontroversial Joe McCarthy.