Riset UIN Ungkap Lebih dari 600 Orang di Indonesia Mengaku Nabi

- Jumat, 03 Juli 2026 | 16:00 WIB
Riset UIN Ungkap Lebih dari 600 Orang di Indonesia Mengaku Nabi

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Prof. Al Makin, mengungkapkan bahwa terdapat lebih dari 600 orang di Indonesia yang mengaku sebagai nabi. Temuan ini merupakan hasil riset mendalam yang dilakukannya untuk menelusuri fenomena klaim kenabian di tanah air.

"Pertanyaan saya di situ. Setelah itu saya mulai riset, hasilnya kira-kira kita punya nabi jumlahnya itu lebih dari 600. Sangat mudah itu, misalnya saya datang ke Kesbangpol, di Yogya saja, di situ ada kelompok atau disebut aliran kepercayaan itu lebih dari 200," kata Al Makin dalam program Perspektif One on One di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (02/07/2026).

Ia mengingatkan, pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika kolom agama selain enam yang sudah ada dibuka, dalam sepekan ratusan agama didaftarkan. Uniknya, sejak zaman kolonial, setiap kali terjadi pemberontakan selalu terkait dengan gerakan-gerakan spiritualisme.

"Dan rata-rata mendapat wahyu dan pengikut, yang paling menonjol Gerakan Ratu Adil, Diponegoro, tapi di luar itu sebenarnya banyak. Misal, di Banten ada, di Surabaya itu di Gedangan. Nabi itu siapa, satu dia menyatakan diri mendapat wahyu, dawuh, sabda, bisikan, ilmah. Kedua, mereka berhasil menarik pengikut atau umat. Ketiga, ada gerakan sosial, ada misi yang dibawa untuk mengubah dunia menjadi lebih baik," ujar Al Makin.

Ia mencontohkan gerakan-gerakan di Wonosobo, di Karangkobar seperti Syekh Jumadil Kubro yang mengaku mendapat wahyu dan memimpin gerakan melawan Belanda berdasar wahyu itu. Artinya, dia mengonsolidasikan kekuatan dari atas ke bawah.

Ada pula Suku Samin di Blora yang terbilang sangat sistematis karena memiliki ajaran sendiri yang berbeda dari ajaran kebanyakan. Al Makin menerangkan, di Pulau Jawa saja ada titik-titik vital seperti di Bogor, Cirebon, atau Ciamis untuk Jawa Barat.

"Di Manggarai, Jakarta, itu ada namanya Imam Solihin yang menyatakan sebagai nabi, dapat wahyu, reinkarnasi Bung Karno, dan lain-lain. Kemudian, di Jawa Timur misal ada Banyuwangi, Madura ada beberapa, Blitar, Kediri, Surabaya. Bicara luar Jawa misalnya Makassar, Palu, itu banyak. Kemudian, di Sumatera ada Lampung, beberapa. Lombok. Rumusnya dalam buku saya, saya terangkan setiap ada krisis, zaman apapun akan memunculkan nabi. Di Indonesia misalnya krisis penjajahan, ketika ekonomi itu sangat sulit di era penjajahan, muncul orang-orang mengklaim nabi," kata Al Makin.

Di Sumatera, Batak, Sisingamangaraja diklaim inspirasi nabi-nabi seperti Guru Suma, Raja Mulia Naipospos, atau Nasiakbagi. Agama yang lahir di zaman Belanda antara lain Parmalim, Ugamo Bangsa Batak, atau Ugamo Putih.

Soal penggunaan bahasa nabi atau bahasa spiritual, Al Makin menilai hal itu karena merupakan bahasa yang dipakai di Indonesia. Zaman sekarang, ia berpendapat, fenomena itu seperti mendirikan perusahaan atau partai politik dalam rangka mengubah keadaan.

"Jadi, krisis politik, krisis ekonomi, itu juga melahirkan nabi. Tahun 1965 kan krisis, itu juga banyak melahirkan orang yang mengklaim menjadi nabi. Nah, sekarang ini kondusif, hujan ini, jamur akan tumbuh. Saya sudah menemui di Medan baru-baru ini, sudah menulis risalah bahwa ini butuh diselamatkan bangsa ini, bangsa ini sedang terpuruk, jawabannya bukan partai politik, tapi Nabi, dan itu saya. Artinya, laten ini, tapi sayangnya respons kita, terutama dari politik memenjarakan mereka," ujar Al Makin.

Al Makin meyakini, di masa mendatang fenomena seperti ini tidak akan berhenti. Bahkan, dengan ancaman seperti diadili, dipenjarakan, dan lain-lain malah akan menjadi semacam legitimasi atas gerakan-gerakan mereka yang semakin kuat. Malah, ia menambahkan, bisa jadi masuk penjara nantinya menjadi satu ciri penting kalau ingin mengaku nabi terhadap pengikutnya.

Al Makin sendiri memandang fenomena ini sebagai kekayaan atas tradisi kenabian yang seharusnya bisa diapresiasi. "Cuma, kita tidak cukup apresiatif, ini kan kekayaan yang bisa diapresiasi dan jangan-jangan kita itu bangkit dari situ. Dari pamer demokrasi kita kalah, sepak bola saja tidak bisa kita, jangan-jangan dari kebatinan, jangan-jangan inilah kontribusi kita kepada dunia, bahwa kita punya 600 nabi," kata Al Makin.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags