Guru Besar UII Kritik Pejabat Asal Bicara: Bisa Picu Ketidakpercayaan Publik

- Kamis, 02 Juli 2026 | 14:00 WIB
Guru Besar UII Kritik Pejabat Asal Bicara: Bisa Picu Ketidakpercayaan Publik

Guru Besar Hukum Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (UII), Prof Suparman Marzuki, mengkritik kebiasaan pejabat di Indonesia yang kerap asal bicara atau asbun. Padahal, kata dia, mereka telah disumpah untuk memangku jabatan publik yang harus dipertanggungjawabkan secara publik.

Menurut Suparman, dampak dari kebiasaan tersebut bisa sangat besar. "Satu, bisa justru tidak menyelesaikan persoalan, tapi memperdalam masalah. Kedua, meluaskan masalah. Ketiga, menjadi bulan-bulanan. Keempat, menimbulkan distrust, ketidakpercayaan publik kepada pemerintah," ujarnya dalam Kelas Malam di YouTube Terus Terang Media, Minggu (26/06/2026).

Ia menekankan bahwa kepercayaan merupakan modal sosial bagi pejabat dan bangsa secara luas. Apalagi, rakyat saat ini sudah susah, seharusnya tidak ditambah dengan pernyataan pejabat yang asal bunyi. "Jangan dibikin susah dengan statement-statement yang bikin susah itu. Bicaralah yang terukur, sehingga tidak menimbulkan keresahan. Karena paling tidak, statement-statement yang keliru itu bisa menimbulkan kemarahan kolektif," tegasnya.

Suparman menilai aksi demonstrasi mahasiswa di berbagai provinsi merupakan salah satu dampak kekecewaan dan kemarahan publik. Ia menganalogikan aksi membunyikan klakson menolak MBG dengan protes di Filipina saat rakyat menuntut penggantian Ferdinand Marcos. Menurutnya, semua itu adalah akumulasi ketidakpercayaan kolektif publik.

"Jadi, jangan dianggap enteng, Bapak Menteri, Bapak Presiden yang saya hormati. Pernyataan-pernyataan bapak-bapak itu jangan lagi asal bunyi. Baru setengah tahun pegang kekuasaan, masih tiga setengah tahun. Berhentilah bikin pernyataan-pernyataan tidak bermutu, pernyataan-pernyataan yang asal bunyi," ujar Suparman.

Ia mencontohkan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang kerap membuat pernyataan kontroversial. Padahal, ia seorang guru besar dan ulama. "Seharusnya yang keluar dari statement beliau itu menyejukkan sebagai ungkapan seorang intelektual, seorang ulama. Jangan tersinggung, Bapak Menteri, ini kita mengingatkan agar tidak semakin jauh," pungkasnya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags