Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan sepuluh orang dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Salah satu yang ikut dibawa ke Gedung Merah Putih adalah Suci Nitia Edward, perempuan yang dikenal sebagai istri siri Bupati Kuansing Suhardiman Amby. Penangkapan ini menambah panjang daftar drama rumah tangga yang berujung pada jeratan hukum.
Suci, yang akrab disapa SC, memulai kariernya sebagai tenaga honorer di Sekretariat DPRD Provinsi Riau pada 2017. Ia ditempatkan di Fraksi Hanura, tempat yang sama dengan Suhardiman Amby yang saat itu masih menjadi politisi. Dari urusan administrasi, hubungan mereka berkembang menjadi hubungan pribadi yang kemudian berujung pada pernikahan siri tanpa tercatat di KUA dan tanpa persetujuan istri pertama, Hj. Yulia Herman.
Pada 2018, kisah ini sempat memanas ketika Yulia mendatangi rumah Suci. Drama rumah tangga yang awalnya hanya menjadi bahan bisik-bisik tetangga perlahan menjadi perbincangan publik. Setelah itu, Suci memilih hidup jauh dari sorotan dan tinggal di kediaman pribadi sang bupati di Desa Pulau Panjang Hulu, Kecamatan Inuman. Dalam acara resmi pemerintahan, yang mendampingi bupati tetaplah istri pertama, sementara Suci lebih banyak berada di balik layar.
Namun, menurut informasi dalam perkara yang kini ditangani penyidik, Suci disebut sebagai sosok yang dipercaya membantu komunikasi dengan kontraktor dan proyek-proyek penting. Ia menjadi semacam "penghubung" di balik layar yang memiliki pengaruh besar, meski tanpa jabatan resmi.
Operasi tangkap tangan KPK digelar pada malam hari. Suci ikut diamankan bersama sembilan orang lainnya. Bupati dan Sekretaris Daerah sempat tidak berada di lokasi sebelum akhirnya menyerahkan diri pada malam yang sama. Mereka kini menjalani pemeriksaan terkait dugaan aliran dana dalam kasus suap dan jual-beli jabatan.
Perjalanan hidup Suci memang luar biasa: dari honorer, menjadi istri siri seorang bupati, lalu mendadak menjadi perhatian nasional karena terseret OTT KPK. Kariernya melesat vertikal, namun bukan ke panggung penghargaan, melainkan ke ruang pemeriksaan.
Yang membuat publik geleng-geleng kepala bukan sekadar kisah cintanya, melainkan dugaan korupsi yang melibatkan uang rakyat. Lagi-lagi jabatan diduga berubah menjadi komoditas. Kuansing seperti sedang kena kutukan: bupati berganti, cerita hebohnya tetap langganan. Pacu jalur semangatnya mendayung ke depan, sementara sebagian elite malah sibuk mendayung perahu kepentingannya sendiri.
Meski demikian, semua pihak yang diperiksa tetap berhak atas asas praduga tak bersalah sampai ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Biarlah pengadilan yang menentukan siapa bersalah dan siapa tidak.
Sementara rakyat hanya berharap satu hal: cukuplah jalan berlubang, jangan lagi integritas pemerintahan ikut berlubang. Sebab kalau amanah terus dijadikan proyek keluarga, jangan heran kalau setiap musim politik, yang panen bukan padi, melainkan operasi tangkap tangan. Kuansing pantas dikenal karena pacu jalurnya, bukan karena antrean pejabatnya menuju ruang pemeriksaan KPK.
Artikel Terkait
Bupati Kuansing Jadi Tersangka Suap, Terima Land Cruiser dan Pajero Sport
Bupati Kuansing Tersangka Suap, Terima Land Cruiser Rp 2 Miliar untuk Pilih Sekda
Samin Tan, Crazy Rich yang Divonis Bebas, Kini Jadi Tersangka di Kejagung dan Polri
KPK Buru Bupati Kuansing yang Diduga Dijemput Pihak Tertentu Saat OTT