Tim negosiasi Amerika Serikat untuk perundingan dengan Iran dipimpin oleh Wakil Presiden serta dua investor real estat yang juga berkecimpung di bisnis mata uang kripto. Jared Kushner dan Steven Witkoff, yang ditunjuk langsung oleh Presiden Donald Trump, dinilai tidak memiliki latar belakang diplomasi yang memadai. Hubungan Kushner dengan kebijakan luar negeri muncul semata-mata karena pernikahannya dengan Ivanka Trump, putri presiden. Sementara Witkoff, yang sebelumnya dikenal sebagai pengembang properti, diangkat sebagai utusan khusus untuk Timur Tengah pada 2025.
Kedua tokoh ini memiliki keterikatan finansial yang erat dengan negara-negara Teluk. Kushner mendirikan Affinity Partners pada 2021, sebuah perusahaan investasi yang sebagian besar modalnya berasal dari dana kekayaan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Bahkan di tengah puncak perang AS-Iran pada Maret 2026, ia masih berupaya menghimpun investasi tambahan dari pemerintah negara-negara Teluk. Witkoff, di sisi lain, menanamkan modal awal pada World Liberty Financial, sebuah usaha mata uang kripto yang diluncurkan keluarga Trump. Perusahaan itu kemudian menjual 49 persen sahamnya kepada Aryam Investment, perusahaan asal UEA yang terkait dengan Penasihat Keamanan Nasional negara tersebut, hanya empat hari sebelum Trump dilantik.
Klausul emolumen dalam Konstitusi AS melarang pejabat pemerintahan menerima hadiah atau imbalan dari pihak asing tanpa persetujuan Kongres. Para pengamat menilai konflik kepentingan ini sangat jelas, terutama ketika Kushner dan Witkoff harus merundingkan perdamaian di Timur Tengah yang sedang dilanda kekacauan. Rudal-rudal telah menghantam sasaran militer dan ekonomi di berbagai negara Teluk, mengikis kepercayaan terhadap AS sebagai mitra keamanan.
Hubungan keduanya dengan Israel juga menjadi sorotan. Keluarga Kushner telah menyumbangkan ratusan ribu dolar kepada organisasi pemukim Israel dan Friends of the IDF. Affinity Partners berinvestasi di sektor teknologi Israel menggunakan dana dari Arab Saudi. Dalam kapasitas diplomatiknya, Kushner pernah memuji prajurit IDF di hadapan massa di Tel Aviv. Sementara itu, Witkoff bersama Kushner terlibat dalam Board of Peace yang menyusun Master Plan for Gaza. Rencana tersebut, yang disebut terinspirasi dari company towns dan work camps, membagi Gaza menjadi zona industri dan permukiman dengan akses terbatas bagi warga Palestina, sementara kawasan pesisir akan diubah menjadi hotel mewah.
Di kalangan diplomat Washington, nama Kushner dan Witkoff sering disambut dengan gelengan kepala. Namun, di kawasan yang terdampak langsung, mitra perunding justru mungkin bertanya apa yang bisa mereka tawarkan kepada Affinity Partners dan World Liberty Financial, bukan kepada AS. Keinginan kuat Trump untuk mencapai kesepakatan semakin memperumit situasi. Meski kesepakatan awal mungkin lebih mudah diraih karena konflik kepentingan dan minimnya pemahaman para perunding, hasilnya berisiko hanya bersifat sementara dan rentan runtuh secara katastropik. Abraham Accords, kesepakatan Gaza, Lebanon, dan Iran disebut sebagai contoh kesepakatan yang cacat fundamental.
Nilai utama Kushner dan Witkoff sebenarnya adalah akses langsung mereka ke Trump, yang tidak tertarik mendengarkan birokrasi profesional. Karena tidak ada kesepakatan yang bisa disahkan tanpa persetujuan presiden, kualitas kesepakatan ditentukan oleh apa yang ditawarkan ke Gedung Putih, bukan ke pihak lawan. Akibatnya, lahirlah serangkaian kesepakatan yang menenangkan berbagai pihak dan menghasilkan keuntungan, tetapi tidak memiliki daya tahan jangka panjang.