Televisi pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), menuai protes keras setelah memotong siaran wawancara dengan ketua parlemen sekaligus negosiator utama Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Wawancara itu membahas perundingan dengan Amerika Serikat (AS) yang tengah berlangsung.
Pusat media parlemen Iran mengecam pemotongan tersebut, menuduh IRIB tidak berkoordinasi. Dalam pernyataan resmi, mereka mengungkapkan bahwa rekaman wawancara telah diserahkan ke IRIB lebih dari dua jam sebelum penayangan. Namun, siaran dihentikan di tengah jalan tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Padahal, diskusi tersebut telah direkam dan langkah minimal yang seharusnya dilakukan para pejabat IRIB adalah berkoordinasi dengan pusat media parlemen, jika mereka memutuskan untuk tidak menayangkan sebagian diskusi yang bertentangan dengan prosedur," demikian bunyi pernyataan protes tersebut.
IRIB membela diri dengan mengatakan bahwa wawancara dibagi menjadi dua bagian, dan bagian kedua akan ditayangkan pada Rabu (1/7) malam. Namun, pusat media parlemen mencatat bahwa bagian yang dipotong mencakup topik sensitif, seperti inspeksi oleh badan pengawas nuklir PBB, aset Teheran yang dibekukan, dan kredit rekonstruksi senilai US$ 300 miliar.
Insiden ini memicu reaksi dari kalangan garis keras di Iran, termasuk anggota parlemen dan tokoh media konservatif, yang selama ini mengkritik kesepakatan awal antara Teheran dan Washington. Sebelumnya, seorang presenter televisi pemerintah bahkan menyerukan penutupan Bandara Mehrabad untuk mencegah tim negosiasi Iran bepergian ke Swiss.
Artikel Terkait
Israel Akui Alami Pengeboman Terburuk Sepanjang Sejarah dalam Perang Melawan Iran
Bursa Asia Variatif di Awal Kuartal Baru, Investor Cermati Sikap The Fed dan Ketegangan AS-Iran
Iran Tegaskan Kedaulatan Atas Selat Hormuz Usai Teken MoU dengan AS
Iran Tolak Tawaran Prancis Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz, Sebut Aksi Itu Provokasi