Genosida di Gaza Dorong Gelombang Mualaf Baru dari Kalangan Milenial dan Gen-Z

- Rabu, 01 Juli 2026 | 12:50 WIB
Genosida di Gaza Dorong Gelombang Mualaf Baru dari Kalangan Milenial dan Gen-Z

Konflik berkepanjangan di Gaza yang menelan ribuan korban jiwa justru memicu fenomena tak terduga: semakin banyak warga dunia, terutama perempuan milenial dan Generasi Z, yang memeluk Islam. Mereka mengaku terinspirasi setelah membaca Al-Qur'an dan menyaksikan keteguhan iman rakyat Palestina di tengah perang.

Salah satunya adalah Madison Reeves, ibu berusia 24 tahun dari Tampa, Florida. Ketertarikannya pada Islam bermula pada September 2023 setelah berbincang dengan seorang Muslimah lewat aplikasi pertukaran bahasa. Namun, pecahnya perang di Gaza dan skala genosida yang terjadi semakin menguatkan tekadnya. Pada 24 Oktober 2024, ia membagikan video dirinya mengenakan hijab dan merayakan keimanan barunya.

"Ini merupakan penyesuaian yang besar," ujar mantan personel militer AS itu. Madison bukan satu-satunya. Pada bulan yang sama, influencer TikTok dan penulis asal Amerika, Megan Rice, juga memeluk Islam setelah membaca Al-Qur'an. Perjalanannya dimulai ketika ia membentuk klub buku World Religion yang bertujuan membaca Al-Qur'an di tengah genosida Gaza.

Mualaf baru lainnya adalah Alex, kreator TikTok yang mendeskripsikan dirinya sebagai "leftist queer gremlin". Menurut laporan Daily Mail, Alex baru-baru ini membeli mushaf Al-Qur'an dan mulai berhijab. Dalam salah satu videonya, ia menanggapi kritik bahwa ia akan kembali ke gaya hidup Barat setelah tren ini berlalu. "Bagian mana dari gaya hidup Barat yang menurut kalian akan membuat saya kembali? Kapitalisme yang tak terkendali? Semua praktik penjajahan itu? Karena saya membenci keduanya," katanya.

Sejumlah pakar menilai keputusan memeluk Islam bagi banyak orang merupakan bentuk pemberontakan paling puncak terhadap Barat. "Pemberontakan adalah bagian dari masa muda. Pada titik ini, apa yang lebih bersifat memberontak, lebih anti-Barat, lebih anti-kapitalisme, dan lebih anti-kemapanan daripada memeluk Islam?" ujar Lorenzo Vidino, Direktur Program on Extremism di George Washington University.

Roohi Tohir dalam artikelnya di Yaqeen Institute menyatakan bahwa di tengah genosida dahsyat di Gaza, keimanan dan ketangguhan rakyat Palestina tampak jelas. Mereka menjalani hidup dengan kesadaran bahwa dunia bukanlah tujuan akhir, sebagaimana diklaim sekularisme modern. Dikhianati dan ditinggalkan, mereka menyaksikan kenyataan pahit tentang dunia yang tidak adil. "Namun demikian, mereka tetap teguh. Keimanan mereka tidak dapat dibungkam. Baik tua maupun muda, suara mereka dipenuhi keyakinan bahwa kemenangan sejati diraih dengan mengarahkan rasa takut dan keluh kesah hanya kepada Allah, sambil tetap menunjukkan keteguhan melalui penolakan mereka untuk menyerah," kata Tohir.

Peneliti di Yaqeen Institute itu menjelaskan bahwa pelajaran terbesar dari Gaza adalah tentang keimanan: bagaimana petunjuk Allah mampu meneguhkan hati manusia ketika seluruh sandaran dunia runtuh, dan bagaimana Al-Qur'an tetap menjadi cahaya bagi siapa saja yang mencarinya dengan ketulusan.

Mualaf lain, Clarke Jones (nama samaran), yang dibesarkan dalam lingkungan Church of Christ, mengatakan kepada News Line: "Saya tidak akan mengatakan bahwa Palestina sendirilah yang membuat saya masuk Islam... Tetapi Palestinalah yang membuat saya mengambil Al-Qur'an untuk pertama kalinya. Awalnya saya membacanya demi menambah pengetahuan dan sebagai bentuk solidaritas. Namun ketika saya membacanya, saya mendapati bahwa Al-Qur'an menjelaskan apa yang selama ini saya rasakan dan yakini."

Jamie Rosario juga menceritakan pengalamannya: "Saya terus menjaga salat lima waktu saya, dan saya merasakan kedamaian yang luar biasa... Setelah mengalami perceraian, menjual rumah, dan kehilangan teman-teman, hidup saya benar-benar seperti lembaran kosong. Al-Qur'an, Islam, dan komunitas yang saya temukan telah memberikan harapan dan optimisme baru. Saya merasa sedang kembali menjadi diri saya yang sejak awal diciptakan untuk menjadi seperti ini."

Mualaf Nefertari Moon mulai membaca Al-Qur'an setelah menyaksikan ketabahan rakyat Palestina. "Saya ingin mengetahui apa yang membuat orang-orang tetap memanggil Allah ketika kematian ada tepat di depan mata," katanya. Setelah membaca Al-Qur'an beberapa waktu, ia akhirnya memeluk Islam.

Meski Israel gencar melakukan propaganda hasbara di seluruh dunia, simpati kepada Gaza dan Palestina terus mengalir. Sebagian memutuskan memeluk Islam, sementara jutaan lainnya terus mendukung Palestina tanpa memedulikan agama mereka.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags