Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengusulkan agar pemerintah memberikan stimulus insentif untuk seluruh jenis kendaraan bermotor di Indonesia, mulai dari kendaraan berbasis mesin pembakaran dalam (ICE), hybrid (HEV), plug-in hybrid (PHEV), hingga baterai listrik murni (BEV). Usulan ini disampaikan di tengah upaya menjaga pertumbuhan industri otomotif nasional yang menghadapi berbagai tantangan global.
Ketua Harian sekaligus Ketua Penyelenggara Pameran dan Konferensi Gaikindo, Anton Kumonty, menilai pemerintah telah menunjukkan komitmen konsisten dalam mendukung industri otomotif. Hal itu diwujudkan melalui kebijakan, program, dan insentif yang diterapkan dalam beberapa tahun terakhir. "Gaikindo melihat pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, telah menunjukkan komitmen yang konsisten dalam mendukung industri otomotif nasional," ujar Anton dalam keterangan resmi, Selasa (30/6/2026).
Menurut Anton, berbagai kebijakan seperti pemberian fasilitas investasi, insentif fiskal, dan forum dialog rutin dengan pelaku industri merupakan bentuk nyata upaya pemerintah menjaga daya saing. Salah satu yang disoroti adalah fasilitas User Specific Duty-Free Scheme (USDFS), yang memberikan pembebasan bea masuk untuk impor bahan baku dan komponen yang belum tersedia di dalam negeri. Gaikindo mencatat, realisasi impor melalui skema tersebut mencapai sekitar 8,25 juta ton dengan nilai sekitar USD 800 miliar sepanjang Juli 2008 hingga Desember 2025. Dari total 74 perusahaan pengguna, 57 di antaranya merupakan perusahaan otomotif.
Kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) juga dinilai membantu industri. Insentif ini dimanfaatkan berbagai merek kendaraan yang diproduksi di Indonesia sesuai ketentuan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Kebijakan itu terbukti mampu menjaga permintaan domestik serta mempertahankan utilisasi pabrik, sekaligus mendukung keberlangsungan lapangan kerja di sektor otomotif.
Dukungan pemerintah juga terlihat melalui Program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang mendorong pengembangan kendaraan ramah lingkungan, termasuk LCGC, HEV, hingga BEV. Selain itu, forum komunikasi strategis rutin digelar bersama pelaku industri. "Keberhasilan industri otomotif nasional sangat bergantung pada kolaborasi yang erat antara pemerintah dan seluruh pelaku industri," kata Anton. Salah satu forum yang rutin diselenggarakan adalah Indonesia–Japan Automobile Dialogue dan Biofuel Co-Creation Task Force Meeting.
Ketua Bidang Pengembangan Pasar Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menyebut dukungan pemerintah terhadap industri otomotif Jepang turut menarik minat investor lain. Beberapa perusahaan otomotif asal Tiongkok bahkan menyatakan keinginan mendapatkan dukungan serupa. "Melihat dukungan dari pemerintah terhadap industri otomotif Jepang di Indonesia, beberapa perusahaan otomotif dari Tiongkok yang saat ini sedang mulai berinvestasi di Indonesia menyatakan keinginannya untuk mendapatkan dukungan yang sama dari pemerintah agar dapat menjalankan rencana jangka panjangnya di Indonesia," tutur Jongkie.
Gaikindo menegaskan industri otomotif merupakan sektor strategis yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang menjaga keberlanjutan dan meningkatkan daya saing. Gaikindo telah mengusulkan kepada Kementerian Perindustrian agar stimulus insentif diberikan secara menyeluruh untuk mendorong pertumbuhan seluruh segmen kendaraan. "Sebagai asosiasi yang mewadahi industri kendaraan bermotor di Indonesia, Gaikindo akan terus mendukung terciptanya ekosistem industri otomotif yang sehat, kompetitif, dan berkelanjutan melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, pelaku industri, serta seluruh pemangku kepentingan," tutup Anton.
Artikel Terkait
GAIKINDO Apresiasi Kebijakan Pemerintah yang Jaga Industri Otomotif Nasional
Insentif Impor Otomotif Capai USD 800 Miliar, Pemerintah Dinilai Konsisten Dukung Industri