Pernahkah Anda asyik menelusuri media sosial, lalu mendapati kolom komentar yang dipenuhi makian, body shaming, hingga fitnah? Alih-alih diskusi yang sehat, yang terlihat hanyalah ketikan penuh kebencian. Ironisnya, akun-akun yang melontarkan komentar pedas itu seringkali memiliki foto profil kalem kucing lucu atau kutipan bijak. Fenomena ini memunculkan pertanyaan: mengapa seseorang bisa begitu kejam dan berani saat bersembunyi di balik layar ponsel?
Di sinilah ujian terberat dari nilai-nilai yang diajarkan sejak sekolah dasar: Pancasila, khususnya Sila Kedua. Algoritma media sosial dirancang untuk memancing emosi. Anonimitas dan akun privat membuat pengguna merasa aman mengetik apa pun tanpa takut konsekuensi langsung. Ada ilusi bahwa teks di layar hanyalah kata-kata, bukan serangan nyata. Padahal, di balik setiap akun yang dikomentari, ada manusia dengan perasaan yang bisa terluka. Satu kalimat yang dianggap bercanda bisa menjadi pukulan berat bagi orang lain. Pada titik ini, esensi "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" seringkali menguap digantikan ego.
Sila kedua Pancasila tidak harus diwujudkan dengan menolong korban perang di luar negeri. Di era digital, memanusiakan manusia bisa dimulai dari hal sederhana: cara kita memperlakukan orang lain di ruang maya. Beradab berarti menyadari bahwa batasan moral di dunia nyata juga berlaku mutlak di dunia digital. Jika di dunia nyata kita tidak berani mendatangi orang asing lalu menghina fisiknya, mengapa di media sosial hal itu terasa sah?
Menghidupkan sila kedua di era internet berarti belajar memiliki empati digital. Sebelum menekan tombol kirim, jeda tiga detik dan bertanya: "Jika kalimat ini diucapkan kepada saya atau ibu saya, apakah akan terasa sakit?" Jika jawabannya iya, hapus ketikan itu. Kritik tetap diperbolehkan, bahkan diperlukan agar ruang digital tetap sehat. Namun, ada perbedaan tipis antara mengkritik dan menghujat. Kritik fokus pada isi atau tindakan, sementara hujatan menyerang personal dan merendahkan martabat manusia.
Pancasila bukan hanya untuk dihafal saat ujian atau dibaca saat upacara. Pancasila hidup dalam setiap ketukan keyboard. Mulai sekarang, mari saring sebelum sharing, dan pikirkan sebelum mengetik. Netizen yang keren bukanlah yang paling tajam ketikannya, melainkan yang paling mampu memanusiakan sesama di mana pun berada.
Artikel Terkait
Gen Z dan Kembalinya Primbon: Antara Sains, Media Sosial, dan Pencarian Kepastian
Rekor Baru Ragunan: 135.500 Pengunjung Serbu Kebun Binatang di Puncak HUT Jakarta
Pemerintah Terima Hibah Lahan 30 Hektare di Meikarta untuk Bangun Rusun Subsidi
Balap Liar di JLNT Antasari Viral, Polisi Kaji Sistem Buka-Tutup Malam Hari