Gen Z dan Kembalinya Primbon: Antara Sains, Media Sosial, dan Pencarian Kepastian

- Selasa, 30 Juni 2026 | 00:06 WIB
Gen Z dan Kembalinya Primbon: Antara Sains, Media Sosial, dan Pencarian Kepastian

Di tengah gempuran teknologi dan sains modern, Generasi Z justru kembali merangkul tradisi primbon dan pamali. Bukan karena takhayul, melainkan sebagai cara mencari kepastian di era yang serba tidak pasti. Fenomena ini terlihat dari maraknya konten weton dan pantangan kuno di media sosial, yang dikemas ulang dengan visual estetik dan logika kekinian.

Weton, sistem perhitungan hari lahir dalam budaya Jawa, kini menjelma menjadi alat ukur kecocokan hubungan ala Gen Z. Di TikTok dan X, infografis kecocokan weton bertebaran, menawarkan panduan asmara yang terasa lebih personal dibanding zodiak atau tarot. Padahal, bagi leluhur, weton adalah sistem kosmologi dan ilmu titen yang kompleks bukan sekadar tebak-tebakan. Namun, bagi generasi yang mengaku skeptis, weton menjadi jalan instan untuk mendapatkan rasa aman di tengah dunia modern yang makin rumit.

Hal serupa terjadi pada pamali, pantangan kuno yang dulu dianggap irasional. Kini, Gen Z mematuhinya bukan karena takut dihantui, melainkan karena menemukan logika di balik larangan tersebut. Contohnya, larangan makan di pintu yang konon membuat jodoh jauh dipatuhi karena dianggap sebagai etika tidak menghalangi jalan. Larangan memotong kuku malam hari dimaknai sebagai tips keselamatan agar tidak terluka saat minim cahaya. Pamali pun berubah dari sekadar takhayul menjadi kode etik kuno atau survival hacks warisan leluhur yang masuk akal.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi tidak harus lestari lewat buku atau paksaan. Tradisi bisa bertahan melalui jalur modern dan relevan. Gen Z butuh weton dan pamali bukan karena percaya hal mistis, melainkan karena butuh pegangan yang dekat dan nyata di tengah hidup yang semakin ruwet. Di era digital, hitungan kuno leluhur ternyata masih menjadi penenang.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags