Ekspor mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) asal China ke pasar global terus menunjukkan tren peningkatan. Pada Mei lalu, nilai pengapalan BEV China secara global mencapai 9,2 miliar dolar AS atau setara Rp 165,1 triliun, melonjak 49 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, menurut data lembaga pemikir energi global Ember.
Kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut. Nilai ekspor BEV China ke ASEAN tembus rekor baru sebesar 1,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 21,5 triliun dalam sebulan. Akselerasi ini dipimpin Thailand yang menyerap lebih dari 36 ribu unit BEV asal China, disusul Filipina dengan lonjakan volume melampaui 33 ribu unit.
Negara dengan skala pasar lebih kecil seperti Kamboja dan Laos juga mulai menunjukkan pertumbuhan volume yang pesat. Tren ini didorong oleh berbagai stimulus insentif pajak dari pemerintah setempat, perluasan jaringan pengisian daya, hingga kemitraan perakitan lokal.
Analis Energi Asia dari Ember, Lam Pham, mengatakan bahwa disrupsi pasar bahan bakar global akibat konflik Timur Tengah turut mempercepat transisi ini. Lonjakan harga BBM dinilai membuat masyarakat di ASEAN semakin realistis untuk beralih ke kendaraan bertenaga baterai. "Kondisi krisis energi tersebut pada akhirnya memperkuat posisi elektrifikasi sebagai jalur utama menuju ketahanan energi yang lebih stabil," ujarnya. Langkah ini tidak hanya mengurangi ketergantungan negara importir terhadap bahan bakar fosil, tetapi juga memangkas biaya transportasi konsumen dalam jangka panjang.
Secara kumulatif, ekspor BEV China kini mendekati kategori baterai lithium-ion sebagai teknologi elektrifikasi terbesar milik China. Total global, sebanyak 448 ribu unit BEV telah dikirim ke luar negeri, terdiri dari 279 ribu unit BEV dan 169 ribu unit plug-in hybrid electric vehicle (PHEV).
Pasar Indonesia
Indonesia menjadi salah satu pasar strategis bagi industri otomotif China. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, total BEV impor dari China pada Mei lalu mencapai 1.692 unit. Angka ini jauh lebih kecil dibanding periode Januari-Mei yang mencapai 24.238 unit untuk semua model, terlepas dari merek China atau bukan. Namun, belakangan angkanya melandai seiring dengan aturan tarif bea impor BEV CBU (Completely Built Up).
Berikut data impor BEV asal China pada Mei 2026: BYD Sealion 7 sebanyak 258 unit, Denza D9 210 unit, BYD M6 197 unit, GAC AION V 187 unit, BYD Atto 3 174 unit, BYD E6 129 unit, GAC AION UT 105 unit, BYD Dolphin 101 unit, BAIC BJ-30 33 unit, BYD Atto 1 26 unit, Changan Deepal S07 24 unit, Maxus MIFA9 15 unit, MINI 13 unit, BYD Seal 10 unit, BAIC X-55 6 unit, dan MG Cyberster 4 unit.
Adapun data kumulatif impor BEV asal China pada Januari-Mei 2026: BYD Atto 1 sebanyak 7.867 unit, BYD M6 5.017 unit, BYD Sealion 7 4.067 unit, Denza D9 2.359 unit, GAC AION V 1.420 unit, GAC AION UT 1.191 unit, BYD Atto 3 547 unit, MINI 306 unit, BYD Seal 201 unit, BYD Dolphin 165 unit, BYD E6 129 unit, Changan Lumin 119 unit, Changan Deepal S07 112 unit, Maxus MIFA9 109 unit, BAIC BJ-30 78 unit, GAC AION Hyptec HT 77 unit, BAIC X-55 39 unit, Maxus MIFA7 5 unit, MG Cyberster 4 unit, dan MG 4 EV 1 unit.
Artikel Terkait
Toy Story 5 Bertahan di Puncak Box Office, China Eastern Hadirkan Penerbangan Bertema
DeepSeek akan Gandakan Jumlah Karyawan di Tengah Kompetisi AI China
Prabowo Tambah Anggaran Riset Rp4 Triliun, Peta Jalan Penelitian Nasional Segera Disusun
AS Kembali Serang Iran, Targetkan Infrastruktur Militer hingga Fasilitas Drone