Seorang mantan anggota parlemen Thailand diduga menembak mati seorang pejabat daerah di dekat Bangkok, kemudian menghubungi sebuah siaran langsung YouTube untuk mengakui perbuatannya. Insiden ini terjadi pada Senin (10/8/2026) dan langsung memicu kecaman dari Perdana Menteri Thailand.
Chalong Reawraeng, mantan anggota parlemen dari Provinsi Nonthaburi, menelepon pembawa acara yang tengah melakukan siaran langsung di YouTube, Anchalee Paireerak, yang juga seorang pengamat politik. Dalam percakapan yang terekam, Anchalee tampak terkejut mendengar pengakuan Chalong bahwa ia telah menembak Thongchai Yenprasert, seorang mantan pejabat kepolisian, di luar kantornya di pinggiran utara Bangkok.
Thongchai, yang menjabat sebagai presiden Organisasi Administrasi Provinsi Nonthaburi (PAO), tertembak di bagian leher dan meninggal dunia di rumah sakit. Sopirnya juga tertembak di lengan dan tangan, namun selamat.
Setelah penembakan, Chalong sempat ditangkap, namun kemudian diizinkan menggelar konferensi pers di kantor polisi. Polisi menyatakan bahwa mereka mengabulkan permintaan yang tidak lazim itu agar Chalong bisa meminta maaf kepada keluarga korban. Namun, begitu berada di depan mikrofon, ia justru memaparkan tindakannya secara rinci selama lebih dari enam menit sambil merokok.
Dalam konferensi pers itu, Chalong mengaku tidak berniat menembak Thongchai yang ia sebut sebagai "teman baik". Ia mengatakan bahwa Thongchai "marah" kepadanya, namun tidak menjelaskan alasannya. Menurut laporan media setempat, keduanya terlibat dalam perselisihan pribadi.
"Dia (Thongchai) kemudian mendorong saya sambil berkata, 'Saya tidak mau bicara, saya tidak mau bicara'," terang Chalong. Ia mengaku kemudian mengikuti Thongchai menuju mobilnya. "Ketika saya mengeluarkan pistol, saya tidak bermaksud menembaknya. Tetapi kemudian (sopir Thongchai) mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya ke saya, jadi saya menembak."
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, pada Senin sore menyatakan bahwa perlakuan polisi terhadap Chalong yang merupakan mantan anggota partainya sangat mengejutkan. "Pelaku tidak harus mengenakan borgol, bahkan sempat menggelar konferensi pers dan bersikap seolah-olah situasinya normal... ini tidak benar," ujarnya. "Siapa pun dia, kini dia adalah seorang pembunuh," tegas Anutin, seraya menambahkan bahwa pihak berwenang akan menempuh "proses hukum sepenuhnya" terhadap Chalong.
Sementara itu, Gubernur Provinsi Nonthaburi membantah bahwa Chalong mendapatkan perlakuan istimewa. Ia menjelaskan bahwa mantan anggota parlemen tersebut diizinkan merokok saat berbicara kepada media karena ia sedang stres dan tangannya gemetar.
Penembakan ini terjadi hanya tiga hari setelah seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun menembak mati delapan orang di rumah dan sekolahnya, lalu bunuh diri, dalam insiden penembakan massal terburuk di Thailand sejak tahun 2022. Kedua serangan tersebut tidak saling berkaitan.
Insiden terbaru ini akan semakin memicu perdebatan mengenai pengendalian senjata api di Thailand, negara dengan tingkat kepemilikan senjata api tertinggi di Asia Tenggara. Menyusul penembakan di sekolah pada hari Jumat, Perdana Menteri Anutin telah memerintahkan penegakan hukum senjata api yang lebih ketat dan menyatakan bahwa polisi akan mendirikan pos pemeriksaan sebagai bagian dari upaya penertiban. Langkah-langkah lainnya mencakup pengetatan pengawasan terhadap kepemilikan, pembawaan, dan penggunaan senjata api.
Artikel Terkait
Persija Fokus Fisik dan Taktik di Pemusatan Latihan Thailand
Politisi Thailand Telepon Jurnalis Saat Siaran Langsung Usai Tembak Mati Pejabat
Empat Tim Siap Berlaga di Semifinal Piala AFF 2026
Shin Tae-yong Bawa 28 Pemain Persija ke Thailand, Dua Nama Absen