Prabowo Dinilai Hadapi Tantangan Terbesar: Membersihkan Warisan Budaya Kekuasaan yang Membenci Kritik

- Jumat, 26 Juni 2026 | 05:25 WIB
Prabowo Dinilai Hadapi Tantangan Terbesar: Membersihkan Warisan Budaya Kekuasaan yang Membenci Kritik

Presiden Prabowo Subianto menghadapi tantangan yang jauh lebih fundamental ketimbang pembangunan infrastruktur atau program-program sosial. Tantangan terbesarnya justru datang dari dalam: membersihkan pemerintahannya dari warisan watak kekuasaan yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai "rezim asu" sebuah metafora tentang kekuasaan yang menuntut kepatuhan mutlak, membenci kritik, dan menjadikan para penjilat sebagai pilar utamanya.

Istilah "asu" dalam budaya Jawa bukan sekadar umpatan. Ia menjadi simbol tentang sesuatu yang kehilangan martabat karena terlalu tunduk kepada tuannya. Watak kekuasaan semacam inilah yang, menurut pengamat, telah tumbuh subur dalam sepuluh tahun terakhir kehidupan politik Indonesia. Para menteri berlomba memuji, buzzer berlomba membela, dan para elit berlomba mencari muka sementara rakyat dipaksa percaya bahwa semua baik-baik saja.

Ketika harga kebutuhan pokok naik, rakyat diminta bersabar. Ketika lapangan kerja menyempit, mereka diminta optimistis. Ketika demokrasi melemah, mereka diminta tidak terlalu kritis. Seolah tugas rakyat hanyalah menjadi penonton yang bertepuk tangan atas setiap adegan yang dipertontonkan kekuasaan.

Yang paling mengkhawatirkan, penyakit ini tidak otomatis berakhir ketika presiden berganti. Ia menjalar seperti virus masuk ke birokrasi, partai politik, kampus, organisasi masyarakat, hingga ruang-ruang yang seharusnya menjadi benteng moral bangsa. Rezim semacam ini hidup dari ketakutan, tumbuh dari kultus individu, dan berkembang dari kebiasaan mematikan suara yang berbeda. Ia bertahan karena terlalu banyak orang yang rela menjual akal sehat demi secuil kedekatan dengan kekuasaan.

Karena itu, tantangan terbesar Presiden Prabowo saat ini bukanlah membangun jalan, bendungan, atau program makan bergizi. Rakyat memilih Prabowo untuk memimpin Indonesia, bukan untuk menjadi museum hidup bagi peninggalan politik Jokowi. Indonesia tidak membutuhkan Jokowi jilid dua. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengoreksi apa yang salah.

Kita membutuhkan pemimpin yang berani berkata tidak kepada para penjilat. Berani mendengar kritik tanpa marah. Berani mengakui kesalahan tanpa merasa kehilangan wibawa. Berani mengganti orang-orang yang bekerja demi kepentingan kelompok, bukan kepentingan bangsa.

Sejarah menunjukkan satu kenyataan sederhana: tidak ada rezim yang tumbang karena terlalu banyak mendengar kritik. Sebaliknya, banyak rezim runtuh karena terlalu lama mendengar pujian. Pujian adalah candu paling berbahaya bagi penguasa. Ia membuat pemimpin merasa dicintai ketika sebenarnya sedang ditertawakan. Ia membuat pemimpin merasa berhasil ketika rakyat mulai kehilangan harapan. Ia membuat pemimpin merasa kuat ketika fondasi kepercayaan publik perlahan runtuh.

Presiden Prabowo masih memiliki kesempatan untuk memutus mata rantai itu. Tetapi kesempatan tidak berlangsung selamanya. Semakin lama para pewaris watak rezim lama dibiarkan bercokol, semakin besar risiko pemerintahan ini kehilangan jiwanya sendiri. Rakyat tidak menuntut kesempurnaan. Mereka hanya ingin melihat keberanian keberanian untuk berbeda, untuk mengoreksi, dan untuk mengembalikan negara kepada tujuan awalnya: melayani rakyat, bukan melayani kekuasaan.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya berapa banyak proyek yang dibangun. Sejarah akan bertanya satu hal yang jauh lebih penting: apakah Prabowo berhasil menghentikan warisan rezim asu, atau justru menjadi bagian dari warisan itu sendiri?

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags