Fenomena Pemain Diaspora: Hampir Seperempat Pemain Piala Dunia 2026 Bela Negara Lain

- Rabu, 24 Juni 2026 | 10:06 WIB
Fenomena Pemain Diaspora: Hampir Seperempat Pemain Piala Dunia 2026 Bela Negara Lain

Hampir seperempat dari total 1.248 pemain yang berlaga di Piala Dunia 2026 tercatat tidak lahir di negara yang mereka perkuat. Data FIFA menunjukkan angka ini mencapai 289 pemain atau 23 persen melonjak drastis dibandingkan 16,5 persen pada Piala Dunia 2022 di Qatar.

Rekor Baru Pemain Diaspora di Piala Dunia 2026

Kenaikan proporsi pemain diaspora ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah turnamen. Dari 48 tim peserta, hanya delapan tim yang seluruh pemainnya lahir di negara yang mereka wakili. Sisanya bergantung pada pemain dengan koneksi kewarganegaraan melalui orang tua, kakek-nenek, atau naturalisasi.

Dalam laga pembukaan Maroko melawan Brasil, terjadi momen bersejarah ketika sebelas pemain Maroko di lapangan tidak satu pun lahir di negara Afrika Utara tersebut. Tim debutan Curacao bahkan hanya memiliki satu pemain yang lahir di pulau Karibia itu dari total 26 pemain dalam skuad mereka.

Sementara itu, Qatar membawa pemain dari sepuluh negara berbeda mulai dari Afrika, Eropa, hingga Amerika Selatan. Hal ini menunjukkan betapa agresifnya kebijakan naturalisasi yang ditempuh sejumlah federasi sepak bola.

Dinamika Emosional di Balik Pertandingan

Fenomena ini tak jarang menimbulkan sisi emosional yang rumit. Pada 16 Juni lalu, pemain Senegal Ibrahim Mbaye yang lahir di Prancis mencetak gol ke gawang tim kelahiran dirinya sendiri. Ia mengikuti jejak Breel Embolo yang pada Piala Dunia 2022 menjebol gawang Kamerun.

"Saya tahu jika mencetak gol, saya tidak akan merayakannya, sebagai bentuk rasa hormat. Bukan berarti saya tidak bahagia," ujar Embolo kala itu kepada wartawan.

Empat pasang saudara juga tercatat membela negara berbeda di Piala Dunia edisi ini. Desire dan Guela Doue mewakili Prancis dan Pantai Gading. Nico serta Inaki Williams membela Spanyol dan Ghana. Harry bersama John Souttar terpisah antara Australia dan Skotlandia, sementara Derrick Luckassen dan Brian Brobbey membela Ghana serta Belanda.

Perubahan Regulasi FIFA dan Proyeksi ke Depan

FIFA baru menetapkan aturan kewarganegaraan pemain secara formal pada era 1960-an. Sebelumnya, pemain bisa membela negara mana pun tanpa batasan. Luis Monti menjadi satu-satunya pemain yang tampil di final Piala Dunia untuk dua negara berbeda Argentina 1930 dan Italia 1934.

Pada 2004, FIFA memperlonggar aturan dengan mengizinkan pemain membela satu negara di level junior dan beralih ke negara lain di level senior. Syaratnya, pemain harus memiliki koneksi jelas berupa orang tua atau kakek-nenek yang lahir di negara tersebut.

" hampir empat persen populasi dunia tinggal di negara yang bukan tempat kelahiran mereka. Ini lebih tinggi pada pekerja terampil dan atlet elit," jelas Profesor Gijsbert Oonk, sejarawan migrasi dari Erasmus University Rotterdam.

Kecenderungan ini diperkirakan terus meningkat seiring globalisasi dan makin longgarnya aturan FIFA. Pada Piala Dunia 2030, angka pemain diaspora berpotensi menembus 30 persen dari total peserta terutama dengan bergulirnya kompetisi di enam negara yang tersebar di tiga benua.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags