Edukasi Keuangan Masuk ke Komunitas eSports, IPOT Gandeng Gamer untuk Perkuat Literasi Investasi Generasi Muda

- Senin, 22 Juni 2026 | 23:00 WIB
Edukasi Keuangan Masuk ke Komunitas eSports, IPOT Gandeng Gamer untuk Perkuat Literasi Investasi Generasi Muda

Literasi keuangan kini menyasar komunitas eSports sebagai upaya mengedukasi generasi muda tentang pengelolaan finansial di era digital. Langkah ini dinilai strategis untuk mengubah cara pandang komunitas digital terhadap masa depan keuangan mereka, terutama di tengah tingginya angka inklusi keuangan yang belum diimbangi pemahaman yang memadai.

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2025 menunjukkan ketimpangan yang tajam. Inklusi keuangan anak muda berusia 18–25 tahun melesat hingga 89,96 persen, tetapi literasi finansial mereka baru mencapai 73,22 persen. Kesenjangan sebesar 16,74 persen ini menjadi alarm bahwa satu dari lima anak muda nekat berinvestasi tanpa memahami risiko. Akibatnya, hanya satu dari 14 investor terdaftar yang aktif bertransaksi setiap bulan.

Presiden Direktur dan CEO PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Moleonoto The menyoroti adanya irisan besar antara komunitas eSports, khususnya pemain Mobile Legends: Bang Bang (MLBB), dan investor muda dari kalangan Gen Z serta Milenial. Kedua kelompok ini kini menjadi tulang punggung pasar modal nasional. Namun, di balik lonjakan partisipasi tersebut, terdapat anomali kritis berupa fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang perlu diwaspadai.

“Kami percaya komunitas eSports memiliki kemampuan membaca data, disiplin, dan mengambil keputusan cepat. Karakter inilah yang juga dibutuhkan dalam investasi. Melalui edukasi dan teknologi AI, kami ingin membantu generasi muda mengubah kemampuan tersebut menjadi fondasi untuk membangun masa depan finansial yang lebih baik,” ujar Moleonoto dalam keterangan resmi, Senin (22/6/2026).

IPOT memiliki National AI Transformation Platform, sebuah platform investasi berbasis kecerdasan buatan yang menggabungkan literasi finansial, teknologi, dan edukasi bagi generasi muda. Menurut Moleonoto, transformasi ini mengubah peran IPOT melampaui sekuritas konvensional menjadi pusat literasi finansial terintegrasi. Teknologi AI Robo Trading berfungsi otomatis sebagai pelindung modal dan penegak disiplin investasi demi menghindari bias emosional. Seluruh ekosistem digital ini dilindungi arsitektur keamanan siber berlapis yang ketat, mulai dari SIM OTP, ASDI Device Lock, hingga AI Threat Detection 24 jam.

Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari menyatakan bahwa stigma literasi keuangan yang rumit dan membosankan harus didobrak. Menurutnya, ketangkasan digital, pembacaan data, dan taktik makro yang biasa digunakan para pemain di arena MLBB memiliki kemiripan substantif dengan strategi mengelola modal di pasar keuangan dunia nyata.

“Di era AI, yang tertinggal bukan orang yang tidak punya uang, tetapi orang yang tidak tahu cara mengelola uangnya. Jika teknologi kecerdasan buatan mampu membuat seseorang menjadi lebih hebat dalam ketangkasan digital seperti bermain game, maka teknologi AI yang sama seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membantu mereka menjadi lebih cerdas dalam membangun masa depan finansial,” kata dia.

Brigita kemudian mengajak komunitas gamer untuk menyelaraskan keterampilan dalam permainan mereka menjadi empat kemampuan Smart Money. Pertama, map awareness atau kemampuan membaca kondisi. Jika dalam game pemain harus jeli melihat pergerakan musuh, gold, dan objektif pada peta, maka di pasar modal investor dituntut membaca data tren makro, laporan keuangan, serta risiko sebelum menempatkan dana.

Kedua, timing atau kapan harus bertindak. Mengetahui momentum yang tepat untuk masuk ke dalam pertempuran, mempertahankan posisi, atau mundur. Di dunia investasi, hal ini tercermin pada keputusan kapan harus membeli saham, menahan, atau menjual demi membatasi kerugian. Ketiga, item build atau pemilihan instrumen. Memilih dan meracik kombinasi item yang sesuai dengan peran karakter. Di dunia nyata, ini setara dengan melakukan diversifikasi serta alokasi aset sesuai profil risiko individu. Keempat, disiplin atau tidak melakukan all-in. Bermain bagus berarti tidak emosional, tidak asal maju, dan tidak melakukan all-in tanpa kalkulasi matang.

Untuk memudahkan pemahaman para pemula, pelajar, dan komunitas eSports, IPOT menganalogikan alokasi instrumen investasi layaknya pemilihan fungsi build item pada permainan Mobile Legends. Saham diibaratkan Blade of Despair yang berfungsi sebagai komponen full damage item, menawarkan potensi pertumbuhan modal dan dividen tinggi dalam jangka panjang, namun memiliki fluktuasi risiko yang setara. Exchange Traded Fund (ETF) diibaratkan Top Country Pro Build yang memberikan akses diversifikasi instrumen secara instan. Reksa dana diibaratkan tank atau support yang memberikan perlindungan, fleksibilitas ramah pemula, dan keseimbangan portofolio. Obligasi diibaratkan defense build yang menjaga stabilitas portofolio dengan pendapatan tetap yang cenderung aman dari risiko guncangan besar.

Brigita menambahkan, proses pengelolaan keuangan juga membutuhkan urutan farming yang logis, layaknya strategi early game menuju late game scaling. Investor pemula diajak mengamankan dana likuid terlebih dahulu, mulai konsisten mengumpulkan aset dari instrumen yang dipahami, hingga akhirnya mencapai pertumbuhan eksponensial lewat efek bunga berbunga. Sebagai basis pertahanan, instrumen xRDN dari IPOT diperkenalkan dengan tingkat imbal hasil dasar dua persen per tahun untuk menjaga agar nilai kas yang mengendap tidak menyusut tergerus inflasi.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar