Pemerintah Belum Pastikan Penurunan Harga BBM Nonsubsidi Meski Harga Minyak Dunia Turun Akibat Damai AS-Iran

- Jumat, 19 Juni 2026 | 01:30 WIB
Pemerintah Belum Pastikan Penurunan Harga BBM Nonsubsidi Meski Harga Minyak Dunia Turun Akibat Damai AS-Iran

Pemerintah masih menahan diri untuk tidak langsung mengambil kesimpulan mengenai dampak kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di dalam negeri. Meskipun harga minyak dunia mulai menunjukkan tren penurunan pascaredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, penyesuaian harga di pasar domestik dinilai tidak bisa terjadi secara otomatis.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pemerintah perlu terlebih dahulu mencermati realisasi dari perjanjian perdamaian yang baru saja ditandatangani. Menurutnya, implementasi kesepakatan tersebut, termasuk dampaknya terhadap kelancaran jalur perdagangan energi global melalui Selat Hormuz, menjadi faktor kunci yang akan menentukan langkah selanjutnya.

“Pertama kan penandatanganan harapannya besok betul-betul bisa dilaksanakan. Dengan kembali terbukanya Selat Hormuz kan kita baru lihat penyesuaian terhadap harga lagi,” ujar Airlangga di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Dia menegaskan bahwa perubahan harga energi tidak terjadi secara instan hanya karena adanya kesepakatan geopolitik. Pemerintah masih perlu mengamati implementasi perdamaian dan pengaruhnya terhadap stabilitas pasokan minyak dunia. “Ini kan tidak otomatis, kita lihat juga implementasi daripada perjanjian perdamaian,” katanya.

Sementara itu, Airlangga belum dapat memastikan kapan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan produk sejenis berpotensi mengalami penurunan. Proses penyesuaian harga, menurutnya, turut dipengaruhi oleh rantai pasok dan posisi pengadaan bahan bakar yang telah berjalan sebelumnya. “Ya barangnya sampai di mana kan kita lihat,” ujarnya saat ditanya mengenai estimasi waktu penurunan harga.

Lebih lanjut, Airlangga belum memberikan sinyal adanya kebijakan tambahan yang akan disiapkan pemerintah untuk merespons perkembangan harga energi global tersebut. Pemerintah, kata dia, masih akan mengevaluasi berbagai perkembangan yang terjadi dalam beberapa waktu ke depan. “Nanti kita lihat,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menandatangani kesepakatan damai antara AS dan Iran di Istana Versailles, Prancis. Kesepakatan tersebut mencakup perjanjian gencatan senjata, pembukaan kembali jalur perdagangan energi penting dunia, Selat Hormuz, hingga penghentian pengembangan senjata nuklir.

Kesepakatan damai ini mendorong penurunan harga minyak dunia. Selain itu, pasokan minyak global juga diproyeksikan meningkat. Berdasarkan data pada Kamis (18/6/2026), harga minyak mentah Brent untuk kontrak Agustus turun 1,13 persen menjadi 78,65 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juli terkoreksi 1,26 persen ke level 75,82 dolar AS per barel.

Meski demikian, prospek perdamaian masih dibayangi ketidakpastian. Trump menyatakan Amerika Serikat dapat kembali melancarkan serangan terhadap Iran apabila Teheran tidak mematuhi isi kesepakatan yang telah disepakati. “Kami akan membombardir mereka habis-habisan jika melanggar perjanjian. Saya tidak ingin itu terjadi. Saya ingin mereka menghormati kesepakatan tersebut,” ujar Trump dalam konferensi pers.

Di sisi lain, International Energy Agency (IEA) memperkirakan penyelesaian konflik secara permanen akan mendorong peningkatan pasokan minyak global secara signifikan dan berpotensi menciptakan surplus pasokan besar pada 2027. Dalam laporan bulanan pasar minyak terbarunya, IEA memperkirakan pasokan minyak global rata-rata turun 3,9 juta barel per hari (bph) pada 2026 menjadi 102,4 juta bph. Namun, pasokan diproyeksikan kembali meningkat menjadi 110,3 juta bph pada 2027. “Proyeksi awal neraca pasar minyak 2027 menunjukkan munculnya surplus pasokan yang signifikan tahun depan,” tulis IEA dalam laporannya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar