Dokter: Kebiasaan Makan Makanan Cepat Saji Sejak Kecil Bisa Picu Serangan Jantung di Usia 50 Tahun

- Kamis, 18 Juni 2026 | 04:15 WIB
Dokter: Kebiasaan Makan Makanan Cepat Saji Sejak Kecil Bisa Picu Serangan Jantung di Usia 50 Tahun

Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji dan olahan, seperti ayam goreng tepung, kentang goreng, sosis, hingga bakso, secara berlebihan setiap hari dapat memicu penumpukan lemak di pembuluh darah yang berujung pada penyakit jantung. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Mitra Keluarga Kemayoran, dr. Nancy Virginia, SpJP(K), mengingatkan bahwa proses terbentuknya penyakit jantung tidak terjadi secara instan. Penumpukan kolesterol dan lemak di pembuluh darah bisa dimulai sejak usia muda akibat pola makan yang kurang sehat.

Menurut dr. Nancy, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh, garam, dan kalori secara berlebihan membuat tubuh perlahan-lahan “menabung” lemak di dalam pembuluh darah. Proses ini berlangsung selama bertahun-tahun tanpa disadari oleh penderitanya. Ia menekankan pentingnya pengawasan terhadap asupan makanan anak sejak dini.

“Kenapa harus kontrol anak makan apa? Jangan kasih anak fried chicken tiap hari, kentang goreng tiap hari, bakso, sosis tiap hari. Karena dari kecil harus dijaga supaya mereka enggak mulai ‘nabung’ tumpukan lemak di dalam pembuluh darahnya,” ujar dr. Nancy dalam acara Health Talk Kalbe Love The Beat, belum lama ini.

Sementara itu, banyak orang beranggapan bahwa penyakit jantung hanya menyerang mereka yang sudah lanjut usia. Padahal, proses yang menyebabkan penyakit tersebut sering kali dimulai sejak masa kanak-kanak atau remaja. Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol secara terus-menerus dapat memicu terbentuknya plak di dinding pembuluh darah. Plak ini merupakan tumpukan lemak, kolesterol, dan zat lain yang membuat pembuluh darah menyempit.

Apabila kondisi tersebut berlangsung selama puluhan tahun, aliran darah ke jantung dapat terganggu dan meningkatkan risiko serangan jantung. Salah satu bahaya terbesar dari kolesterol tinggi adalah sifatnya yang sering tidak menimbulkan gejala. Seseorang bisa merasa sehat dan tetap beraktivitas normal meski penumpukan plak di pembuluh darah terus berlangsung. Akibatnya, banyak kasus penyakit jantung baru diketahui setelah terjadi kondisi serius, seperti nyeri dada atau bahkan serangan jantung mendadak.

“20 tahun, 30 tahun nggak ada rasanya. 50 tahun jepret, bomnya meledak, serangan jantung,” kata dr. Nancy.

Karena itu, menjaga pola makan sejak dini menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular di masa depan. Meski demikian, dr. Nancy menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu menghindari makanan favorit secara total. Yang terpenting adalah menjaga frekuensi dan porsi konsumsi agar tidak berlebihan. Pola makan sehat dapat dilakukan dengan memperbanyak konsumsi buah, sayuran, ikan, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh. Selain itu, penting juga untuk membatasi makanan cepat saji, makanan olahan, gorengan, serta minuman tinggi gula.

Kebiasaan baik tersebut perlu dibarengi dengan aktivitas fisik rutin, tidur yang cukup, menjaga berat badan ideal, dan tidak merokok. Lebih lanjut, menurut dr. Nancy, orang tua memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan makan anak. Makanan yang dikonsumsi anak setiap hari dapat memengaruhi kesehatan pembuluh darah mereka dalam jangka panjang. Oleh karena itu, menyediakan menu bergizi seimbang di rumah dan membatasi konsumsi makanan ultra-proses dapat menjadi investasi kesehatan yang penting bagi keluarga.

Dengan memahami dampak pola makan terhadap kesehatan jantung, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam memilih makanan sehari-hari. Sebab, penyakit jantung sering kali berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus selama bertahun-tahun.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini