Tim ilmuwan internasional berhasil mengidentifikasi 31 spesies baru yang sebelumnya tidak dikenal di kawasan laut dalam Samudra Atlantik Selatan, lepas pantai Brasil. Temuan yang mencakup ubur-ubur bercahaya, ctenophora atau ubur-ubur sisir, organisme bersel tunggal raksasa, hingga cumi-cumi transparan itu diumumkan oleh Schmidt Ocean Institute setelah ekspedisi penelitian laut dalam berakhir. Ekspedisi ini memusatkan perhatian pada zona laut tengah, yaitu lapisan air yang berada di antara permukaan laut dan dasar samudra yang gelap.
Selama penelitian, para ilmuwan mendokumentasikan berbagai jenis ubur-ubur, organisme menyerupai cacing, hewan transparan, dan organisme bersel tunggal berukuran besar yang dapat diamati tanpa bantuan mikroskop. Tim juga mencatat keberadaan cumi-cumi kaca serta gurita pelagis yang sedang memangsa ubur-ubur merah terang di habitat alaminya. Sebagaimana dilaporkan majalah People pada Senin (15/6/2026), kawasan laut tengah disebut sebagai salah satu wilayah paling misterius di Bumi.
Meskipun merupakan habitat layak huni terbesar di planet ini, kawasan tersebut masih menjadi salah satu ekosistem yang paling sedikit dieksplorasi manusia. Kepala ilmuwan ekspedisi dari Smithsonian National Museum of Natural History, Dr. Karen Osborn, mengatakan bahwa kawasan laut tengah dihuni berbagai makhluk luar biasa yang baru mulai dipahami oleh ilmu pengetahuan modern. Menurutnya, setiap penelitian baru terus mengungkap tingkat keragaman hayati yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.
Para peneliti mengaku terkejut oleh tingginya keragaman spesies yang ditemukan selama ekspedisi. Banyak organisme memiliki tubuh transparan yang hampir tidak terlihat di dalam air, sementara sebagian lainnya memiliki tentakel sangat halus dan bentuk tubuh yang tidak lazim. Karakteristik tersebut diyakini merupakan hasil evolusi panjang untuk bertahan hidup di lingkungan laut dalam yang gelap, dingin, dan bertekanan tinggi. Sejumlah spesies bahkan digambarkan menyerupai pita bercahaya, balon transparan, hingga sosok hantu yang melayang di tengah kegelapan samudra.
Penemuan tersebut dimungkinkan berkat penggunaan teknologi pencitraan tiga dimensi beresolusi tinggi yang mampu mendokumentasikan organisme tanpa harus menangkap atau merusaknya. Teknologi noninvasif itu memungkinkan para ilmuwan mempelajari organisme yang sangat rapuh secara lebih aman dan akurat. Sistem pencitraan modern tersebut dipadukan dengan analisis genetika yang dilakukan langsung di atas kapal penelitian. Kombinasi kedua teknologi itu memungkinkan identifikasi spesies baru dilakukan hanya dalam hitungan hari.
Insinyur utama Bioinspiration Lab Monterey Bay Aquarium Research Institute, Dr. Kakani Katija, menyebut pengamatan langsung terhadap kehidupan laut tengah sebagai pengalaman ilmiah yang sangat langka dan menginspirasi. Ia mengatakan teknologi baru memungkinkan keajaiban kehidupan laut dalam didokumentasikan tanpa mengganggu habitat alaminya. Sementara itu, Dr. Karen Osborn menegaskan bahwa sebagian besar rahasia samudra hingga kini masih belum terungkap. Menurutnya, setiap spesies yang ditemukan menunjukkan kemampuan luar biasa makhluk hidup untuk beradaptasi terhadap lingkungan yang ekstrem.
Menanggapi temuan tersebut, Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Khusnul Yaqin, menilai penemuan 31 spesies baru di Brasil merupakan kabar menggembirakan sekaligus pengingat bahwa eksplorasi biodiversitas laut dunia masih berada pada tahap awal. Menurutnya, keberhasilan para ilmuwan internasional mengungkap kehidupan laut dalam membuktikan bahwa samudra masih menyimpan kekayaan hayati yang sangat besar dan sebagian besar belum dikenal manusia.
“Penemuan di Brasil menunjukkan bahwa lautan masih merupakan perpustakaan kehidupan terbesar di planet ini yang sebagian besar halamannya bahkan belum pernah dibuka manusia. Di tengah kemajuan teknologi abad ke-21, samudra tetap menyimpan jutaan pertanyaan ilmiah yang menunggu untuk dijawab,” ujar Khusnul Yaqin.
Ia menilai Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi salah satu pusat penelitian biodiversitas laut tropis dunia karena berada di kawasan Coral Triangle yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di planet ini. “Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia sesungguhnya memiliki modal alam yang luar biasa. Sangat mungkin kekayaan hayati laut Indonesia bahkan melampaui banyak kawasan lain di dunia. Namun hingga hari ini masih banyak organisme laut kita yang belum teridentifikasi, belum dideskripsikan secara ilmiah, bahkan belum pernah diamati oleh peneliti,” katanya.
Khusnul Yaqin mendorong peningkatan kolaborasi antara ilmuwan Indonesia dengan peneliti Brasil dan berbagai negara lain yang telah maju dalam eksplorasi laut dalam. “Kolaborasi internasional bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Melalui kerja sama global kita dapat mempercepat transfer teknologi, penguasaan metode genetika modern, pengembangan sistem pencitraan mutakhir, serta memperluas peluang lahirnya penemuan spesies baru dari perairan Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penelitian biodiversitas tidak boleh berhenti pada inventarisasi spesies semata, melainkan harus diarahkan pada pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Dari biodiversitas laut dapat lahir sumber pangan masa depan, bahan baku farmasi, senyawa antikanker, antibiotik baru, biomaterial, kosmetik bernilai tinggi, hingga energi terbarukan yang ramah lingkungan. Karena itu konservasi dan penelitian biodiversitas sesungguhnya merupakan investasi ekonomi jangka panjang yang sangat strategis,” jelasnya.
Khusnul Yaqin juga mengingatkan bahwa keunggulan terbesar Indonesia bukan hanya terletak pada sumber daya mineral, melainkan pada kekayaan hayati yang dapat diperbarui secara berkelanjutan apabila dikelola dengan baik. “Penemuan di Brasil membuktikan bahwa masa depan ekonomi berbasis pengetahuan dapat lahir dari kedalaman samudra. Indonesia memiliki modal alam yang mungkin lebih besar. Yang kita butuhkan sekarang adalah visi jangka panjang, keberanian berinvestasi pada ilmu pengetahuan, serta komitmen kuat untuk menjaga biodiversitas laut sebagai warisan sekaligus sumber kemakmuran bangsa di masa depan,” tegasnya.
Artikel Terkait
Ketua KPK Sebut Makelar Pengadaan Barang dan Jasa Hanya Penonton yang Tunggu Bocoran Informasi Orang Dalam
Gempa M 6,7 Guncang Sulteng, Satu Tewas dan Ribuan Warga Terdampak
Bobby Nasution Larang ASN dan Pegawai BUMD Sumut Gunakan Vape, Antisipasi Penyalahgunaan Narkoba
Pemerintah Hentikan Sementara Penyaluran Makan Bergizi Gratis Selama Libur Sekolah untuk Evaluasi Kualitas Layanan