Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, angkat bicara terkait perlakuan yang dialami Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) 2025, Tiyo Ardiyanto, yang belakangan mendapat ancaman dan menemukan alat pelacak di kendaraannya. Kejadian ini bermula setelah Tiyo secara terbuka mengkritisi program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah langkah yang dinilai berani namun berujung pada tekanan psikologis dan pengawasan ketat.
Menanggapi situasi tersebut, Mahfud menyatakan bahwa kemarahan yang dirasakan Tiyo atas perlakuan itu adalah hal yang wajar. Namun, dari perspektif keamanan dan intelijen, ia memahami bahwa pelacakan terhadap individu yang dinilai berpotensi memicu gejolak merupakan prosedur yang lazim dijalankan. “Saya kira pantas marah dia diperlakukan begitu. Tapi, kalau dari sudut keamanan dan intelijen memang tugas intelijen harus melacak orang-orang yang punya potensi nanti membuat kebakaran amarah,” ujar Mahfud dalam sebuah podcast yang ditayangkan di kanal YouTube resminya, Selasa (16/6/2026).
Di sisi lain, Mahfud mengaku tidak asing dengan praktik pemantauan semacam itu. Ia bahkan menyatakan bahwa dirinya sadar betul tengah diawasi dan disadap, namun hal itu tidak memengaruhi aktivitasnya. Justru, ia merasa bersyukur karena pengawasan tersebut dapat membuktikan bahwa dirinya tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum. “Saya senang saja, saya bersyukur, alhamdulillah kalau ada yang membuntuti saya dan memonitor saya karena pasti menjadi tahu bahwa saya tidak melakukan apa-apa,” katanya.
Meski memahami pentingnya tugas intelijen dalam menjaga stabilitas negara, Mahfud menegaskan bahwa pembuntutan terhadap aktivis sebaiknya tidak perlu terjadi. Ia mengingatkan bahwa setiap pihak, baik masyarakat sipil maupun aparat keamanan, memiliki kewajiban bersama untuk menjaga keamanan. Namun, dalam ilmu intelijen, langkah-langkah preventif seperti itu kerap dianggap perlu untuk menghindari kelalaian yang berujung pada kekacauan.
Kepada Tiyo Ardiyanto, Mahfud menitipkan pesan agar tidak gentar menghadapi tekanan yang dialaminya. Ia menilai bahwa meskipun Tiyo masih muda dan emosional, substansi kritik yang disampaikannya sebenarnya terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. “Ya supaya berhati-hati, tidak usah takut. Saya melihat ini anak hanya emosinya tinggi, tapi sebenarnya isi apa yang dikatakannya itu terukur,” ujar Mahfud.
Mahfud menekankan pentingnya bagi Tiyo untuk selalu memastikan setiap pernyataan yang dilontarkan memiliki dasar fakta yang kuat. Kritik, menurutnya, harus disertai dengan data dan analisis yang jelas agar tidak mudah dipersoalkan di kemudian hari. Ia mencontohkan sosok Amien Rais sebagai figur yang patut diteladani dalam hal ini.
“Pak Amien Rais ketika mengatakan sesuatu, lalu katanya akan dibawa ke pengadilan, malah nantang dia, ayo bawa, nanti saya buka buktinya di pengadilan,” kata Mahfud, menggambarkan sikap tegas Amien Rais yang justru berani menghadapi ancaman hukum dengan bukti-bukti yang telah disiapkan.
Lebih lanjut, Mahfud menjelaskan bahwa ancaman terhadap Amien Rais akhirnya mereda karena ia mendapat dukungan luas dan mampu membalikkan tekanan dengan menunjukkan bukti tambahan. “Nah, yang kayak gitu-gitu. Mau dibawa ke pengadilan ini kami tambah buktinya, ini ada videonya, audionya, beritanya, mundur semua, tidak ada yang berani melanjuti,” ujarnya.
Mahfud berharap Tiyo dapat meniru cara Amien Rais yang selalu berbicara berdasarkan fakta yang bisa dipertahankan di hadapan publik maupun aparat hukum. Dalam politik, kata Mahfud, segala sesuatu harus terbuka dan tidak boleh sembarangan. “Nah, Tiyo saya harap seperti Pak Amien Rais itu caranya, ketika bicara dia harus punya fakta yang bisa dipertahankan ketika diperiksa, ketika dipersoalkan oleh publik. Ini soal politik, harus terbuka juga, jangan serampangan,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Anak 8 Tahun Jatuh ke Gorong-gorong Terbuka Saat Pawai Obor di Cibinong
Putin Jamu Pemimpin ASEAN di Kazan, Peringati 35 Tahun Hubungan Diplomatik
Menteri Agama Usul Tambahan Anggaran Rp41,89 Triliun untuk Tahun 2027
Program 3 Juta Rumah Tembus 324.213 Unit hingga Juni 2026, Jalur Swadaya Paling Progresif