Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menutup perdagangan di zona merah pada Rabu, 17 Juni 2026, melanjutkan tren pelemahan yang telah berlangsung sejak pembukaan pasar pagi hari.
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup pada level Rp17.762 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 37 poin atau setara 0,21 persen dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp17.725 per dolar AS. Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat rupiah berada di posisi Rp17.730 per dolar AS, melemah 15 poin atau 0,08 persen dari Rp17.715 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.
Adapun berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah tercatat di level Rp17.753 per dolar AS, turun dibandingkan perdagangan sebelumnya yang sebesar Rp17.719 per dolar AS.
Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah kali ini dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah datang dari optimisme pasar terkait potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan mengakhiri ketegangan di Timur Tengah.
Selain perkembangan geopolitik tersebut, perhatian investor kini tertuju pada keputusan kebijakan moneter pertama Federal Reserve di bawah kepemimpinan Ketua The Fed, Kevin Warsh. Bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya, namun pelaku pasar akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru serta arah kebijakan ke depan.
"Pasar sangat sensitif terhadap sinyal apa pun tentang apakah para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk pelonggaran di akhir tahun ini," kata Ibrahim.
Di sisi internal, perhatian pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 17–18 Juni 2026. RDG periode ini dinilai krusial setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen melalui RDG Mingguan.
"Dengan demikian, dalam beberapa waktu terakhir BI telah mengambil langkah agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kebijakan tersebut menjadi perhatian pasar, terutama karena rupiah sebelumnya sempat mengalami tekanan cukup besar terhadap dolar AS," lanjut dia.
Artikel Terkait
Kementan Bantah Rekrutmen Petugas Sensus Pertanian 2026, Peringatkan Masyarakat soal Modus Penipuan Baru
Tiga Tersangka Perusakan Hutan Mangrove dan Produksi Arang Ilegal di Meranti Dilimpahkan ke Kejaksaan
Bupati Jember Resmi Lantik Forum Komunikasi Pesantren dan Guru Ngaji, Jadi Wadah Sinergi Pembangunan Daerah
Putin Sebut Rusia dan ASEAN Punya Fondasi Kokoh untuk Perdalam Kemitraan