Kim Jong-un Klaim Kapasitas Produksi Bahan Nuklir Korut Meningkat Dua Kali Lipat dalam Lima Tahun

- Kamis, 04 Juni 2026 | 19:15 WIB
Kim Jong-un Klaim Kapasitas Produksi Bahan Nuklir Korut Meningkat Dua Kali Lipat dalam Lima Tahun

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, menyatakan bahwa kapasitas produksi material nuklir untuk senjata negaranya telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir. Pernyataan tersebut disampaikan saat ia mengunjungi sebuah fasilitas produksi material nuklir yang baru saja diresmikan pada Rabu, 3 Juni 2026.

Menurut laporan Korean Central News Agency (KCNA) pada Kamis, 4 Juni 2026, Kim menilai peningkatan kapasitas itu sebagai bagian penting dari upaya memperkuat kemampuan pertahanan strategis Korea Utara. Ia menekankan bahwa situasi keamanan yang terus memburuk menuntut penguatan kekuatan nuklir secara berkelanjutan.

Kim mengatakan, konfrontasi berkepanjangan dengan pihak yang disebutnya sebagai musuh paling agresif, ditambah ancaman yang terus berkembang dan krisis jangka panjang yang sulit diprediksi, menunjukkan betapa pentingnya memperkuat daya tangkal nuklir negara tersebut. Ia juga menilai perkembangan teknologi nuklir yang semakin canggih telah menciptakan kondisi yang matang untuk memasuki tahap baru dalam pengembangan kekuatan nuklir Korea Utara.

Menurutnya, kemajuan itu membuka peluang bagi pelaksanaan rencana yang lebih besar di masa depan.

"Kami telah memastikan urutan prioritas untuk melaksanakan rencana masa depan yang ambisius guna memperkuat kekuatan nuklir negara kami secara eksponensial," kata Kim sebagaimana dikutip KCNA.

Kim menambahkan bahwa pemerintah telah memperoleh jaminan yang diperlukan untuk merealisasikan rencana tersebut. Ia menggambarkan perkembangan yang dicapai sebagai perubahan luar biasa dan keberhasilan yang sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata.

Sementara itu, pernyataan tersebut disampaikan di tengah perhatian internasional terhadap program nuklir Korea Utara. Negara itu terus mengembangkan kemampuan nuklir dan rudalnya meskipun menghadapi berbagai sanksi serta tekanan dari sejumlah negara.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags