Puasa Tarwiyah 8 Dzulhijjah 1447 H Bertepatan Senin, Umat Islam Bisa Gabung Niat dengan Puasa Senin

- Senin, 25 Mei 2026 | 01:20 WIB
Puasa Tarwiyah 8 Dzulhijjah 1447 H Bertepatan Senin, Umat Islam Bisa Gabung Niat dengan Puasa Senin

Umat Islam yang berencana menjalankan puasa sunah Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah 1447 Hijriah tahun ini berkesempatan meraih dua pahala sekaligus. Pasalnya, tanggal tersebut jatuh tepat pada hari Senin, 25 Mei 2026, sehingga niat puasa Tarwiyah dapat digabungkan dengan puasa sunah Senin dalam satu pelaksanaan ibadah.

Puasa Tarwiyah merupakan salah satu amalan yang dianjurkan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, tepatnya sehari sebelum puasa Arafah yang jatuh pada 9 Dzulhijjah. Istilah "tarwiyah" sendiri berasal dari kata tarawwa yang berarti membawa bekal air. Penamaan ini merujuk pada kebiasaan para jemaah haji yang pada hari itu membawa persediaan air zam-zam dalam perjalanan menuju Mina dan Arafah. Sementara itu, sebutan "Arafah" diambil dari nama tempat puncak ibadah haji, yakni Padang Arafah, tempat para jemaah melaksanakan wukuf.

Para ulama menjelaskan bahwa puasa Tarwiyah dan Arafah termasuk amalan sunah yang sangat dianjurkan. Hanif Luthfi Lc dalam bukunya yang berjudul Amalan Ibadah Bulan Dzulhijjah menegaskan bahwa kedua puasa ini menjadi bagian dari ibadah sunah di sepuluh hari pertama bulan yang mulia tersebut. Keutamaan puasa di hari-hari ini pun disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas secara marfu’.

“Siapa yang puasa sepuluh hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari Tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari Arafah seperti puasa dua tahun,” demikian bunyi hadis tersebut.

Dalam kitab an-Najm al-Wahhaj disebutkan bahwa disunahkan untuk berpuasa pada hari Tarwiyah beserta hari Arafah sebagai bentuk kehati-hatian dalam beribadah. Puasa, menurut para ulama, merupakan ibadah yang istimewa. Imam An-Nawawi dan ulama Syafi’iyah bahkan menyatakan bahwa di antara puasa sunah yang paling dianjurkan adalah puasa di bulan-bulan haram, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Mengenai penggabungan niat puasa sunah, Hanif Luthfi menjelaskan bahwa puasa sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah dapat digabungkan dengan puasa sunah lain yang jatuh pada hari yang sama. Sebagai contoh, puasa di awal Dzulhijjah bisa diniatkan bersamaan dengan puasa Dawud atau puasa Senin-Kamis. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu‘ menegaskan bahwa para ulama Syafi’iyyah menyebutkan secara mutlak perlunya menyebutkan nama puasa dalam niat untuk puasa rawatib seperti puasa Arafah, Asyura, puasa bidh (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriyah), serta puasa enam hari Syawwal.

“Puasa pada hari-hari tersebut sudah diatur berdasarkan waktunya. Tetapi kalau seseorang berniat puasa lain di waktu-waktu tersebut, maka ia telah mendapat keutamaan sunah puasa rawatib tersebut. Hal ini serupa dengan shalat tahiyyatul masjid. Karena tujuan dari perintah puasa rawatib itu adalah pelaksanaan puasanya itu sendiri, terlepas apa pun niat puasanya,” jelas Hanif.

Menariknya, puasa sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah tidak disyaratkan harus dilakukan secara berturut-turut. Sebelum menjalankan ibadah ini, umat Islam dianjurkan untuk melafalkan niat agar ibadah yang dijalankan lebih afdal. Berikut lafal niat puasa Tarwiyah sekaligus puasa Senin: Nawaitu shouma ghadin 'an tarwiyati wa 'an shouma yaumal itsnaini sunnatan lillahi Ta'alaa. Artinya: “Saya niat puasa Tarwiyah esok hari dan puasa hari Senin sunah karena Allah Ta'ala.”

Keutamaan puasa Tarwiyah dan puasa di bulan Dzulhijjah sangatlah besar. Berdasarkan keterangan sejumlah hadis, puasa Tarwiyah dapat menghapus dosa satu tahun yang telah terlewati. Selain itu, hari Arafah dikenal sebagai hari di mana Allah SWT paling banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Siti Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada hari di mana Allah membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka inginkan?”

Puasa di bulan Dzulhijjah juga memiliki nilai lebih dibandingkan puasa sunah di bulan lain karena pahalanya dilipatgandakan. Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan riwayat dari Hafshah bahwa Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa di akhir bulan Dzulhijjah dan di awal bulan Muharram, maka Allah akan menjadikannya penebus dosanya selama 50 tahun. Dan puasa satu hari di bulan Muharram sama dengan puasa 30 hari.”

Bahkan, sepuluh hari pertama Dzulhijjah dinilai sebagai waktu paling utama untuk beramal saleh, melebihi jihad di jalan Allah. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah SAW bersabda: “Tiada suatu hari pun yang amal saleh lebih disukai oleh Allah padanya selain dari hari-hari ini yakni sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah.” Para sahabat bertanya, “Dan juga lebih utama daripada berjihad di jalan Allah?” Rasulullah menjawab: “Dan juga lebih utama daripada berjihad di jalan Allah, terkecuali seseorang yang keluar dengan membawa hartanya untuk berjihad di jalan Allah, kemudian tidak pulang selain dari namanya saja.”

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags