Wakil Ketua MPR: Masyarakat Adat Benteng Terakhir Keanekaragaman Hayati dan Kedaulatan Pangan

- Rabu, 20 Mei 2026 | 20:35 WIB
Wakil Ketua MPR: Masyarakat Adat Benteng Terakhir Keanekaragaman Hayati dan Kedaulatan Pangan

Semangat kebangkitan nasional dinilai harus mampu menanamkan pemahaman yang kuat kepada generasi muda mengenai peran strategis masyarakat adat dalam menjaga keanekaragaman hayati dan sumber pangan di Indonesia. Pandangan ini disampaikan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, saat membuka diskusi daring bertema “Keanekaragaman Hayati, Masyarakat Adat, dan Pangan” yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (20/5/2026).

Menurut Rerie, wilayah adat menyimpan kawasan hutan dan sumber pangan lokal yang sangat vital bagi keberlanjutan ekosistem. Ia menegaskan bahwa masyarakat adat merupakan benteng terakhir dalam upaya penyelamatan keanekaragaman hayati sekaligus perwujudan kedaulatan pangan yang berkelanjutan. Diskusi yang dimoderatori Arimbi Heroepoetri itu menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Hilmar Farid, Helianti Hilman, Dicky Senda, serta Sapariah Saturi sebagai penanggap.

Rerie menghubungkan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei yang mengusung tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” dengan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional pada 22 Mei mendatang yang bertema “Bertindak pada Ranah Lokal yang Berdampak Global”. Menurutnya, kedua momentum ini harus dimanfaatkan untuk membangun kepedulian para pemangku kepentingan dan masyarakat terhadap masa depan. Di tengah ancaman krisis iklim dan tren penyeragaman konsumsi, wilayah adat terbukti mampu menjaga ekosistem sekaligus menyediakan sumber nutrisi secara mandiri dan melimpah.

Data Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) mencatat sedikitnya 4,9 juta hektare areal budidaya masyarakat adat menjadi tumpuan sistem pangan lokal yang mandiri. Lebih dari itu, Rerie mengungkapkan bahwa masyarakat adat dan komunitas lokal secara tradisional turut melestarikan 80 persen biodiversitas dunia. Ironisnya, keanekaragaman hayati Indonesia yang kaya justru kerap terlupakan sebagai sumber pangan. Padahal, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat Indonesia memiliki lebih dari 5.500 jenis tanaman pangan dan 33.000 jenis tanaman obat.

Rerie memaparkan data historis yang menunjukkan bahwa pada masa lalu konsumsi pangan pokok masyarakat Indonesia masih sangat beragam, terdiri dari beras (53,5 persen), singkong (22,26 persen), jagung (18,9 persen), serta sagu dan umbi-umbian (4,99 persen). Namun, dalam perkembangannya terjadi penyeragaman masif yang membuat konsumsi nasional kini didominasi beras (74,6 persen) dan gandum (25,4 persen). Penyeragaman ini, menurut Rerie, mendesak wilayah adat untuk membuka lahan bagi tanaman industri pangan monokultur yang justru merusak tata ruang lokal.

“Padahal, kita mampu membangun ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Setiap inisiatif pembangunan mesti bertolak dari modalitas pengetahuan dan kearifan lokal yang kita miliki,” ujar Rerie.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek RI periode 2019–2024, Hilmar Farid, mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan megabiodiversitas nomor dua terbesar di dunia. Negeri ini memiliki 85 persen cadangan sagu dunia, lebih dari 100 jenis sumber karbohidrat lokal, dan 700 bahasa daerah. Namun, dengan segala kekayaan itu, Indonesia justru memilih mengimpor gandum untuk memenuhi sebagian kebutuhan karbohidrat masyarakat.

“Hal ini menunjukkan ada permasalahan mindset dalam membangun kedaulatan pangan kita,” tutur Hilmar. “Sistem pangan kita sangat terpusat. Padahal kita adalah negara kepulauan,” tambahnya. Menurut Hilmar, desentralisasi pangan nasional menjadi solusi pemenuhan kebutuhan dasar di masa depan dan masyarakat adat harus ditempatkan pada posisi penting dalam pengembangan serta penguatan pangan nasional.

Di sisi lain, Founder Javara Indigenous Indonesia, Helianti Hilman, berpendapat bahwa wilayah Indonesia dengan keragaman hayati yang dimilikinya merupakan sumber berbagai bahan makanan. Tren gaya hidup sehat yang berkembang di dunia saat ini membuka peluang besar bagi industri pangan lokal untuk memasok kebutuhan pasar global. “Keragaman dan keunikan sumber bahan pangan lokal, serta budaya kita merupakan kekuatan untuk mengekspor produk-produk pangan khusus ke luar negeri,” kata Helianti. Ia menegaskan bahwa yang terjadi saat ini adalah krisis kebijakan pangan, bukan krisis pangan, karena Indonesia sejatinya memiliki beragam sumber pangan.

Pendiri Komunitas Lakoat Kujawas di Pegunungan Mollo, Timor, Nusa Tenggara Timur, Dicky Senda, menekankan pentingnya membangun sistem pangan lokal secara konsisten agar pengetahuan berkelanjutan terkait pangan lokal dapat terus hidup dari generasi ke generasi. Menurut Dicky, sumber bahan pangan lokal di Timor sejatinya beragam dan telah dikonsumsi secara turun-temurun. Namun, stigma kekurangan pangan masih berkembang karena pangan hanya dimaknai sebagai nasi. Ia mendorong peningkatan pengetahuan terkait pangan lokal sejak dini sebagai bagian dari pengembangan dan keberlanjutan budaya pangan lokal.

Managing Editor Mongabay Indonesia, Sapariah Saturi, berpendapat bahwa sejumlah fakta yang disampaikan para narasumber mengungkapkan peran sentral masyarakat adat dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati. Hal ini, menurutnya, harus menjadi pendorong bagi pemerintah untuk segera mengakui hak-hak masyarakat adat. Tanpa hak dan pengakuan tersebut, berbagai kekayaan keragaman hayati dan sumber pangan yang dimiliki Indonesia terancam punah. Sapariah berharap kehadiran Undang-Undang Masyarakat Adat dapat menjadi bagian dari upaya pengakuan hak masyarakat adat di tanah air.

Wartawan senior Usman Kansong menambahkan bahwa problem keanekaragaman pangan merupakan konsekuensi dari evolusi peradaban manusia, dari masyarakat berburu menuju masyarakat pertanian dan industri. Pada fase pertanian, domestikasi pangan mulai terjadi dan keseragaman mulai muncul. Memasuki era industri, keseragaman didikte oleh pasar. Saat ini, Indonesia tengah mengembangkan food estate dengan membabat hutan yang merupakan sumber keanekaragaman pangan. “Yang ditanam memang padi, ubi kayu, dan jagung, tetapi untuk kebutuhan pemenuhan bahan bakar yaitu bioetanol. Artinya perut kita bersaing dengan tangki kendaraan bermotor,” tutup Usman. Menurutnya, upaya melestarikan keanekaragaman hayati harus dimulai dari hal-hal kecil, seperti menanam sumber pangan pokok selain padi untuk konsumsi sehari-hari.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar