Wakil Mensos: Profesionalisme dan Kesiapsiagaan Syarat Mutlak Tagana dalam Penanganan Bencana

- Senin, 18 Mei 2026 | 21:40 WIB
Wakil Mensos: Profesionalisme dan Kesiapsiagaan Syarat Mutlak Tagana dalam Penanganan Bencana

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, menegaskan bahwa kesiapsiagaan dan profesionalisme menjadi syarat mutlak bagi setiap anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Pernyataan itu disampaikannya saat menghadiri Apel Pengukuhan dan Simulasi Uji Standar Operasional Prosedur Kampung Siaga Bencana (KSB) di Pendopo Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Dalam arahannya, Agus Jabo menjelaskan bahwa Tagana merupakan garda terdepan Kementerian Sosial (Kemensos) dalam merespons situasi darurat. Ia menekankan bahwa menjadi relawan tidak cukup hanya bermodalkan semangat, melainkan juga harus dibekali kesiapan mental dan keterampilan khusus untuk bertugas di medan yang sulit.

“Tagana adalah ujung tombak bagi Kemensos dalam menangani bencana alam,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Senin (18/5/2026).

Ia menggambarkan realitas di lapangan yang kerap dihadapi para relawan. “Kalau jadi relawan atau Tagana memang harus berada di bawah terik matahari, kadang berada di tengah-tengah banjir, maupun di tengah-tengah tanah longsor,” katanya.

Lebih lanjut, Agus Jabo memaparkan bahwa penanganan bencana dilakukan melalui sejumlah tahapan. Salah satu langkah awal yang krusial adalah mitigasi, yang diwujudkan melalui pembangunan Kampung Siaga Bencana dan Lumbung Sosial. “Pertama adalah mitigasi, dengan kemudian membangun kampung siaga bencana, termasuk membangun lumbung sosial,” jelasnya.

Ketika bencana terjadi, ia meminta seluruh unsur bergerak secara cepat dan terkoordinasi demi menyelamatkan masyarakat. Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapan, baik dalam simulasi maupun kondisi darurat yang sesungguhnya. “Yang penting targetnya masyarakat yang terkena bencana itu selamat,” pesannya.

Di sisi lain, Agus Jabo memastikan bahwa Kemensos akan bergerak cepat begitu menerima laporan situasi darurat dari daerah. Ia pun mendorong pemerintah daerah agar tidak ragu menyalurkan bantuan saat bencana melanda. Apresiasi juga disampaikannya kepada masyarakat desa yang aktif terlibat dalam upaya kesiapsiagaan, seraya berharap semangat gotong royong terus diperkuat.

“Saya senang kalau masyarakat desa kemudian aktif begini,” ucapnya menutup arahan, seraya mengajak seluruh relawan Tagana untuk terus membersamai masyarakat yang terdampak bencana.

Rangkaian kegiatan tersebut diisi dengan menyanyikan Mars Tagana, peninjauan fasilitas KSB dan Lumbung Sosial, serta pembacaan ikrar sikap siaga bencana oleh Camat Pulosari, Arif Senoaji. Acara juga dirangkaikan dengan pengukuhan KSB oleh Bupati Pemalang, Anom Widyantoro. Dalam ikrar tersebut, dinyatakan komitmen untuk siap melaksanakan penanggulangan bencana di wilayah Pulosari serta menjunjung tinggi asas kebersamaan dan gotong royong.

Sementara itu, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, dikenal sebagai salah satu wilayah yang rawan bencana banjir bandang. Ancaman ini dipicu oleh tingginya curah hujan dan meluapnya aliran sungai dari kawasan hulu gunung. Pada awal tahun lalu, bencana serupa menerjang sejumlah desa, termasuk Desa Penakir, yang mengakibatkan puluhan rumah rusak, belasan jembatan terputus, dan ratusan warga terpaksa mengungsi.

Menanggapi kondisi tersebut, Kemensos telah menyalurkan bantuan ke Desa Penakir berupa makanan siap saji, lauk pauk siap saji, serta perlengkapan darurat lainnya seperti tenda dan genset untuk mendukung kebutuhan masyarakat saat kondisi darurat.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar