Rusia kembali melancarkan serangan brutal ke Ukraina dengan menghujani ibu kota Kiev menggunakan ribuan drone dan puluhan rudal dalam tiga hari terakhir, menewaskan puluhan warga sipil dan meratakan sebuah blok apartemen berlantai sembilan. Gelombang serangan yang berlangsung sejak Rabu hingga Kamis pekan lalu itu menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun, dengan militer Rusia mengerahkan lebih dari 1.400 drone dan 56 rudal yang sebagian besar diarahkan ke wilayah Kiev.
Serangan besar-besaran ini terjadi hanya beberapa hari setelah Rusia mengancam akan menggempur Ukraina habis-habisan apabila perayaan Victory Day di Lapangan Merah, Moskow, pada 9 Mei mendapat serangan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya telah mengumumkan gencatan senjata selama tiga hari, yakni dari 9 hingga 11 Mei, yang dikaitkan dengan peringatan hari kemenangan tersebut. Namun, militer Rusia menyatakan bahwa unit-unit garis depan mereka telah siap melancarkan serangan rudal besar-besaran ke jantung Kota Kiev jika perayaan itu terganggu.
Pada 9 Mei, sebanyak 43 drone dan sejumlah rudal balistik diluncurkan ke Ukraina, disusul 27 drone lainnya pada 10 Mei. Pejabat Rusia menegaskan bahwa serangan-serangan itu merupakan bentuk pembalasan atas gempuran Ukraina yang terjadi pada hari perayaan Victory Day. Sebaliknya, Ukraina menuding Rusia telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang baru saja disepakati.
Setelah masa gencatan senjata berakhir pada malam 11 Mei, Rusia kembali meningkatkan intensitas serangan. Pada malam itu, sebanyak 216 drone diluncurkan, diikuti oleh serangan yang jauh lebih masif pada malam 12 Mei hingga siang 13 Mei, yang melibatkan 892 drone. Puncaknya terjadi pada malam 13 Mei hingga dini hari 14 Mei, ketika Rusia meluncurkan 675 drone dan 56 rudal dalam serangan yang disebut sebagai yang paling brutal dalam beberapa hari terakhir.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menegaskan bahwa militernya tidak tinggal diam dan telah membalas serangan tersebut dengan menargetkan industri minyak serta fasilitas produksi militer Rusia. Respons itu diwujudkan pada Jumat, 15 Mei, ketika Ukraina meluncurkan drone jarak jauh skala besar yang menyasar infrastruktur energi dan militer di sejumlah wilayah Rusia. Serangan balasan itu menewaskan sedikitnya empat orang, termasuk seorang anak, di Kota Ryazan, serta menghantam kilang minyak setempat yang merupakan salah satu yang terbesar di negara tersebut.
Zelensky menyampaikan kemarahannya setelah serangan Rusia meratakan sebuah blok apartemen sembilan lantai di Distrik Darnytskyi, Kiev, yang menewaskan sedikitnya 24 orang. Ia menegaskan bahwa setiap serangan Rusia tidak akan dibiarkan tanpa pembalasan. Sementara itu, Angkatan Udara Ukraina menyatakan bahwa serangan tersebut, yang juga menewaskan tiga anak, merupakan yang terbesar dilakukan Rusia sejak perang dimulai empat tahun silam.
Dalam pernyataannya, Zelensky juga mengungkapkan kekhawatiran atas upaya Rusia untuk menarik Belarusia ke dalam perang. Ia menuduh Rusia sedang mempersiapkan serangan terhadap lebih dari 20 pusat pengambilan keputusan di seluruh Ukraina. Menurutnya, kantor dan kediaman dinasnya termasuk dalam daftar target, bersama dengan gedung-gedung pemerintah dan pos komando militer.
Artikel Terkait
Wamendagri Desak Kepala Daerah Turun ke Lapangan untuk Kendalikan Inflasi Pangan
Sergio Castel Tak Bersinar di Persib, Justru Jadi Buruan Klub Dalam dan Luar Negeri
Ibu Rumah Tangga sebagai Menteri Keuangan Keluarga: Strategi Jitu Mengelola Uang Belanja di Tengah Harga Kebutuhan Pokok yang Terus Naik
Kecelakaan Beruntun di JORR Tewaskan Dua Orang, Truk Tabrak Pikap yang Sedang Bantu Perbaikan Ban