Jakmania Desak Perombakan Total Manajemen Persija Usai Gagal Saingi Persib di Perebutan Gelar

- Selasa, 12 Mei 2026 | 16:30 WIB
Jakmania Desak Perombakan Total Manajemen Persija Usai Gagal Saingi Persib di Perebutan Gelar

Kegagalan Persija Jakarta bersaing dengan Persib Bandung dalam perebutan gelar juara Super League 2025/2026 telah memicu gelombang kemarahan di kalangan suporter setianya, The Jakmania. Kekalahan beruntun dari rival abadi di musim ini membuat kelompok suporter Macan Kemayoran tersebut mendesak manajemen untuk melakukan perombakan total, termasuk mengevaluasi posisi pelatih Mauricio Souza dan komposisi skuad untuk musim depan.

Pentolan The Jakmania, Irlan Alarancia, secara terbuka menuntut perubahan besar-besaran yang menyentuh seluruh lini klub, mulai dari level pemain, pelatih, hingga jajaran tertinggi manajemen. Menurutnya, Persija telah gagal memenuhi ekspektasi untuk menjadi juara musim ini, sehingga tidak ada lagi ruang untuk sekadar perbaikan parsial.

Jika dilihat dari posisi di klasemen, Persija sebenarnya mencatatkan peningkatan dibandingkan musim lalu. Tim berjuluk Macan Kemayoran itu hampir dipastikan finis di papan atas kompetisi. Namun, bagi Jakmania, capaian tersebut belum cukup membanggakan karena target utama klub sejak awal musim adalah meraih gelar juara, bukan sekadar finis di posisi terhormat.

Kekecewaan semakin mendalam setelah Persija selalu kalah dari Persib dalam dua pertemuan musim ini. Pada laga putaran pertama, Persija tumbang dengan skor 0-1, dan kembali takluk 1-2 pada duel kedua. Di sisi lain, Persib Bandung kini memimpin klasemen dengan koleksi 75 poin dan unggul head to head atas Borneo FC dalam perebutan gelar juara, menjadikan kegagalan Persija semakin terasa perih.

Irlan menilai bahwa akar permasalahan Persija tidak hanya terletak pada performa pemain atau pelatih. Menurutnya, perubahan besar harus dilakukan hingga ke level tertinggi manajemen klub. Ia secara terang-terangan meminta Presiden Klub Persija, Mohamad Prapanca, untuk mundur dari jabatannya.

“Kalau mau dibilang dirombak, ya bagi gua wajib dirombak. Malah dirombak bukan hanya ke pelatih, bukan hanya ke pemain ya, tapi dirombak juga dari presiden klubnya,” kata Abi Irlan kepada wartawan, Selasa (12/3/2026).

Menurutnya, masa kepemimpinan Prapanca dinilai sudah cukup karena Persija belum juga kembali berjaya di kompetisi nasional. Ia juga menyoroti posisi legenda klub, Bambang Pamungkas, yang dinilai gagal dalam perannya di manajemen.

“Presiden klub Prapanca gua rasa udah cukup tahun ini dan dia harus mundur. Bambang Pamungkas, mohon maaf Bepe, posisi Mas Bambang juga gua lihat di sini nggak tahu sebagai apa. Gua rasa juga gagal, Mas Bepe sudah harus mundur,” ucapnya.

Tidak hanya jajaran petinggi klub, Irlan juga menyoroti peran manajer tim Ardi Tjahjoko. Ia merasa sosok Ardi gagal menjadi pemimpin yang mampu mengangkat mental dan performa skuad di lapangan. Kekecewaan itu semakin memuncak setelah Persija kalah dari Persib di Stadion Segiri, Samarinda, Minggu (10/5).

Irlan mengaku tidak melihat kehadiran Ardi maupun Prapanca untuk menemui Jakmania yang hadir langsung mendukung tim dalam laga tersebut.

“Pak Ardi, gua rasa juga harus mundur. Karena Pak Ardi gua melihat bukan seorang ksatria ya, walaupun beliau dari TNI. Bukan seorang petarung, bukan seorang pejuang, bukan seorang prajurit yang bisa meng-orkestra tarunanya, meng-orkestra prajuritnya di lapangan,” terang Abi Irlan.

“Tapi gua lihat di sini nggak ada, bahkan di pertandingan terakhir kemarin gua nggak melihat Pak Ardi nyamperin ke temen-temen, gua pun nggak melihat Bung Prapanca nyamperin ke temen-temen,” sambungnya.

Meski demikian, Irlan tetap memberikan apresiasi kepada Bambang Pamungkas yang dinilai masih mau mendengarkan keluhan dan masukan dari suporter.

“Yang hanya nyamperin Mas Bepe doang. Gua terima kasih buat Mas Bepe sudah mau mendengarkan masukan anak-anak, kritikan anak-anak, bahkan cacian anak-anak. Jadi gua harap terakhir untuk Mas Bepe, Mas Panca, Pak Ardi, cukup tahun ini. Rombak total manajemen Persija,” tambah dia.

Nama Mauricio Souza juga ikut menjadi sorotan setelah Persija gagal bersaing dalam perebutan gelar juara musim ini. Namun, Irlan mengaku tidak ingin terlalu ikut campur soal siapa pelatih yang akan menangani Persija musim depan. Ia menegaskan bahwa tugas suporter adalah memberikan tekanan dan evaluasi kepada manajemen agar memilih sosok terbaik.

“Pelatih tinggal nunggu siapa presiden berikutnya. Kalau mau masih tetap Souza, gua nggak bisa ikut campur. Karena kita punya lagu ‘masa bodo dengan manajemen’ gitu, masa bodo dengan manajemen.”

“Jadi kita sebagai suporter dukung aja. Cuman sebelum tim terbentuk, kita wajib kasih masukan, kita wajib kasih evaluasi, kita wajib kasih tekanan ke manajemen. Pilih pelatih yang bagus, pilih pemain yang bagus untuk skuad Persija tahun depan,” pungkas Abi Irlan.

Tekanan kepada Persija Jakarta diperkirakan akan terus meningkat jika klub kembali gagal meraih trofi musim ini. Meski tampil lebih stabil dibanding musim sebelumnya, hasil minor dalam laga-laga besar serta kegagalan mengimbangi Persib Bandung membuat ekspektasi Jakmania terhadap perubahan total semakin kuat menjelang musim 2026/2027.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar