Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran saat ini berada dalam kondisi yang sangat rapuh, bahkan ia menyebutnya sebagai “kritis.” Di tengah meningkatnya tekanan domestik akibat dampak perang terhadap perekonomian Amerika, Trump mengindikasikan bahwa respons Teheran terhadap tuntutan Washington telah membuat kesepakatan yang sudah lemah itu semakin goyah. Ia pun mengisyaratkan kemungkinan untuk kembali mengerahkan pengawalan angkatan laut di Selat Hormuz, sebuah langkah yang sebelumnya sempat ditangguhkan.
Dalam pernyataannya kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin (11/5/2026), Trump menegaskan bahwa situasi gencatan senjata saat ini sangat genting. “Saya akan mengatakan itu adalah salah satu yang terlemah saat ini; itu dalam kondisi kritis,” ujarnya. Pernyataan ini muncul setelah Iran menyampaikan tanggapan balasan atas serangkaian syarat yang diajukan Amerika Serikat, yang sebagian besar berkaitan dengan penghentian perluasan program nuklir negara tersebut. Trump sebelumnya menolak mentah-mentah usulan balasan Iran dengan menyebutnya sebagai “sampah.”
Sementara itu, dalam wawancara terpisah dengan Fox News, Trump mengungkapkan bahwa ia tengah mempertimbangkan untuk melanjutkan kembali misi pengawalan kapal minyak dan pengiriman komersial lainnya melalui Selat Hormuz. Inisiatif yang sebelumnya diberi nama “Operasi Kebebasan” ini pertama kali diluncurkan pada 6 Mei, namun dihentikan kurang dari dua hari kemudian. Meskipun demikian, Trump menekankan bahwa keputusan final belum diambil.
Kebuntuan diplomatik ini tidak lantas membuat Amerika Serikat berniat mundur. Trump dengan tegas menyatakan bahwa pihaknya akan meraih kemenangan penuh. Ia menepis anggapan bahwa tekanan domestik akan membuatnya lelah atau bosan. “Iran berpikir, ‘Saya akan lelah dengan ini. Saya akan bosan, atau saya akan mendapat tekanan.’ Tetapi tidak ada tekanan,” katanya.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan negosiasi lebih lanjut dengan Iran, Trump menggambarkan kepemimpinan di negara itu terbagi menjadi dua kubu: kelompok moderat dan kelompok yang ia sebut sebagai “orang gila.” Menurutnya, kelompok yang terakhir ini menginginkan pertempuran sampai titik akhir. “Anda tahu, ini akan menjadi pertarungan yang sangat cepat,” ujarnya menambahkan.
Artikel Terkait
DPR Filipina Makzulkan Sara Duterte untuk Kedua Kalinya, Nasib Politiknya Kini di Tangan Senat
Menteri Imigrasi Murka, 145 Napi Rutan Kotabumi Terlibat Sindikat Love Scamming
Chelsea Buka Komunikasi dengan Xabi Alonso, Liverpool Tak Minat Rekrut Sang Legenda
Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS di Tengah Penguatan Dolar dan Lonjakan Harga Minyak