Myanmar Kecam ASEAN karena Dikucilkan dari Forum Regional

- Senin, 11 Mei 2026 | 22:10 WIB
Myanmar Kecam ASEAN karena Dikucilkan dari Forum Regional

Pemerintah Myanmar menyuarakan kekecewaan terhadap Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan merasa dikucilkan dalam forum regional tersebut. Keluhan ini muncul setelah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN pekan lalu secara efektif mengecualikan kepemimpinan pasca-kudeta Myanmar dari partisipasi penuh.

Sejak militer menggulingkan pemerintahan sipil pimpinan Aung San Suu Kyi dan menahan tokoh demokrasi tersebut pada 2021, ASEAN telah mengucilkan Myanmar dari berbagai pertemuan tingkat tinggi. Kudeta itu, menurut laporan AFP pada Senin (11/5/206), memicu perang saudara berkepanjangan yang hingga kini masih berlangsung.

Setelah lima tahun memerintah sebagai junta militer, rezim Myanmar menggelar pemilu yang sangat terbatas dan mengecualikan partai milik Suu Kyi pada bulan lalu. Pemilu tersebut berujung pada pengambilalihan kekuasaan oleh pemimpin junta, Min Aung Hlaing, yang kemudian menjabat sebagai presiden sipil. Ia juga telah mengundurkan diri dari posisinya sebagai panglima tertinggi militer.

Sementara itu, dalam KTT ASEAN yang digelar di Filipina pekan lalu, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menyampaikan keluhan bahwa tidak ada kemajuan berarti di Myanmar. Pernyataan ini menjadi sorotan di tengah ketegangan hubungan antara Myanmar dan beberapa negara anggota ASEAN lainnya.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Myanmar membantah klaim tersebut. Dalam sebuah pernyataan resmi, mereka menyebut bahwa perkembangan positif justru telah terjadi dan diakui oleh sebagian besar negara ASEAN.

“Perkembangan positif yang terjadi di Myanmar telah diakui dengan baik oleh sebagian besar negara anggota ASEAN. Namun, terlihat bahwa beberapa negara anggota terus mempertahankan pembatasan, tindakan diskriminatif, dan pengecualian pemerintah Myanmar dari perwakilan yang setara,” demikian bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Myanmar.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar