Netanyahu Umumkan Target Hentikan Bantuan Militer AS ke Israel dalam Satu Dekade

- Senin, 11 Mei 2026 | 15:55 WIB
Netanyahu Umumkan Target Hentikan Bantuan Militer AS ke Israel dalam Satu Dekade

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk pertama kalinya secara terbuka menyatakan ambisinya untuk melepaskan ketergantungan negaranya dari bantuan militer Amerika Serikat dalam satu dekade ke depan. Pernyataan mengejutkan ini disampaikan dalam sebuah wawancara eksklusif dengan program berita ternama Amerika, 60 Minutes, yang ditayangkan oleh CBS News pada Minggu (10/5) waktu setempat.

Dalam wawancara yang dikutip oleh media internasional pada Senin (11/5/2026) itu, Netanyahu secara spesifik menargetkan penghentian total komponen finansial dari kerja sama militer kedua negara. “Saya ingin mengurangi hingga nol dukungan finansial Amerika, komponen finansial dari kerja sama militer yang kita miliki,” ujar Netanyahu kepada pewawancara.

Saat ini, Israel menerima bantuan militer tahunan dari Amerika Serikat sebesar 3,8 miliar dolar AS, atau setara dengan sekitar Rp66,1 triliun. Angka tersebut merupakan bagian dari paket bantuan jangka panjang senilai total 38 miliar dolar AS (sekitar Rp661,8 triliun) yang telah disepakati Washington untuk periode 2018 hingga 2028.

Meskipun perjanjian bantuan tersebut masih berjalan, Netanyahu menilai momentum politik saat ini justru menjadi waktu yang paling tepat untuk merancang ulang hubungan keuangan bilateral. “Saya tidak ingin menunggu Kongres berikutnya. Saya ingin memulainya sekarang,” tegasnya kepada CBS News, menunjukkan urgensi yang ia rasakan dalam proses transisi kemandirian ini.

Di sisi lain, pernyataan ini muncul di tengah dinamika politik yang rumit. Selama beberapa dekade, Israel menikmati dukungan bipartisan yang kuat di Kongres AS untuk program bantuan militernya. Namun, para pengamat mencatat bahwa dukungan dari anggota parlemen dan publik Amerika mulai terkikis secara signifikan sejak pecahnya perang di Jalur Gaza pada Oktober 2023, yang turut mempengaruhi persepsi terhadap aliansi strategis kedua negara.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar