Mitratel Konsolidasi Dua Anak Usaha, Target Efektif Juli 2026

- Minggu, 10 Mei 2026 | 22:01 WIB
Mitratel Konsolidasi Dua Anak Usaha, Target Efektif Juli 2026

Anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) di bidang penyediaan infrastruktur telekomunikasi, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Mitratel, tengah bersiap melakukan konsolidasi internal dengan menggabungkan dan melebur dua entitas anak usahanya ke dalam perseroan. Aksi korporasi ini menargetkan efektivitas pada 1 Juli 2026.

Dua perusahaan yang akan dilebur adalah PT Persada Sokka Tama (PST) dan PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT). Langkah ini telah mendapatkan persetujuan dari dewan komisaris Mitratel, PST, dan UMT pada 6 Mei 2026. Meski demikian, realisasi rencana tersebut masih memerlukan persetujuan dari rapat umum pemegang saham (RUPS) masing-masing perusahaan serta pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Di tengah persiapan konsolidasi itu, Mitratel juga terus menggencarkan ekspansi di luar Pulau Jawa. Strategi ini dinilai sejalan dengan kebutuhan operator seluler yang kian masif memperluas jangkauan layanan ke wilayah timur Indonesia.

Analis Panin Sekuritas, Aqil Triyadi, mencatat bahwa rasio penyewa per menara atau tenancy ratio Mitratel mengalami peningkatan menjadi 1,57 kali pada kuartal pertama 2026. Angka ini menunjukkan bahwa rata-rata setiap menara yang dimiliki perseroan kini ditempati oleh lebih dari satu operator.

Menurut Aqil, kenaikan tersebut tidak terlepas dari pertumbuhan kolokasi, yaitu jumlah titik penyewaan bersama oleh operator tambahan di menara Mitratel, yang melonjak 11,3 persen secara tahunan menjadi 23.006 unit. Ia menambahkan, peningkatan tenancy ratio ini utamanya ditopang oleh ekspansi operator seluler ke luar Jawa.

“Peningkatan tenancy ratio di tengah arus besar konsolidasi industri operator telekomunikasi juga menunjukkan kemampuan MTEL dalam memenuhi kebutuhan mitra strategis,” tulis Aqil dalam analisisnya, Jumat (8/5).

Lebih dari 59 persen portofolio menara Mitratel saat ini berada di luar Pulau Jawa, termasuk di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Kondisi ini menjadi nilai tambah tersendiri di tengah meningkatnya permintaan infrastruktur telekomunikasi di daerah yang selama ini kurang terjangkau.

Aqil memproyeksikan tenancy ratio Mitratel masih berpotensi meningkat seiring implementasi program Internet Rakyat yang berbasis Fixed Wireless Access (FWA). Teknologi ini memerlukan dukungan menara telekomunikasi untuk memancarkan sinyal internet ke rumah-rumah pelanggan.

Dua operator Internet Rakyat, yakni MyRepublic dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), disebut memiliki target ekspansi layanan yang agresif. Aqil menilai kondisi ini dapat membuka peluang tambahan kolokasi bagi Mitratel.

“Kolaborasi antara penyedia menara dan ekosistem FWA hanya soal waktu karena mereka butuh akselerasi dengan biaya yang lebih murah,” kata Aqil.

Menurut dia, target ekspansi kedua operator itu akan sulit tercapai apabila seluruh kebutuhan infrastruktur dibangun secara mandiri. Oleh karena itu, penyewaan menara eksisting, termasuk milik Mitratel, menjadi opsi yang lebih efisien.

Hingga kuartal pertama 2026, Mitratel mengelola 40.327 menara, tumbuh 1,9 persen secara tahunan. Dengan skala aset tersebut, kenaikan kolokasi dinilai lebih strategis dibanding sekadar ekspansi jumlah menara. Aqil menegaskan, kenaikan tenancy ratio menjadi salah satu katalis utama bagi perseroan.

“Ketika tenancy ratio naik, incremental revenue dari tenant tambahan biasanya memiliki margin yang lebih tinggi,” ujar Aqil.

Sepanjang kuartal pertama 2026, Mitratel mencatatkan pendapatan sebesar Rp2,29 triliun, naik 1,4 persen secara tahunan. Sementara itu, laba bersih meningkat 3,6 persen menjadi Rp545 miliar. EBITDA margin perseroan berada di level 82,7 persen.

Selain menara, Mitratel juga memperkuat jaringan fiber optic yang tumbuh 17,3 persen menjadi 72.842 km billable length. Penguatan fiberisasi ini penting untuk mendukung kebutuhan kapasitas jaringan, latensi rendah, dan pengembangan layanan 5G.

Dari sisi keuangan, Mitratel mencatat arus kas neto dari aktivitas operasi sebesar Rp4 triliun pada kuartal pertama 2026. Posisi kas dan setara kas juga meningkat menjadi Rp2,84 triliun, dengan total aset sebesar Rp60,56 triliun dan ekuitas Rp33,66 triliun.

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham Mitratel dengan target harga Rp760 per saham, atau setara 9,9 kali FY26F EV/EBITDA. Mirae melihat prospek pertumbuhan laba perseroan yang stabil dan neraca keuangan yang sehat sebagai daya tarik utama.

Adapun katalis positif utama bagi Mitratel, menurut Mirae, berasal dari pengembangan fiberisasi untuk mendukung jaringan 5G operator seluler serta meningkatnya permintaan layanan Fixed Wireless Access (FWA).

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar