Iran Respon Proposal Damai AS Lewat Mediasi Pakistan, Soroti Keamanan Teluk dan Selat Hormuz

- Minggu, 10 Mei 2026 | 22:45 WIB
Iran Respon Proposal Damai AS Lewat Mediasi Pakistan, Soroti Keamanan Teluk dan Selat Hormuz

Iran akhirnya memberikan tanggapan resmi terhadap proposal Amerika Serikat yang bertujuan menghentikan konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Balasan itu disampaikan melalui Pakistan, yang berperan sebagai mediator dalam proses negosiasi damai antara kedua negara yang selama ini berseteru.

Dalam pernyataan yang dikutip dari media internasional pada Minggu (10/5/2026), Iran menekankan pentingnya tidak hanya mengakhiri perang, tetapi juga menyusun kerangka pertahanan maritim di kawasan Teluk dan Selat Hormuz. Jalur perairan strategis itu selama ini menjadi titik rawan ketegangan yang melibatkan kepentingan global.

Iran juga menyoroti fakta bahwa negaranya telah dua kali menjadi sasaran serangan dalam kurun waktu kurang dari setahun, tepat di tengah-tengah proses perundingan. Oleh karena itu, fokus utama Teheran saat ini adalah bagaimana mencapai kesepakatan yang bersifat menyeluruh dengan jaminan keamanan yang kuat.

Menurut analisis dari Senior Research Fellow di Center for Middle East Strategic Studies, Abbas Aslani, proposal yang dikirimkan Iran bukanlah sekadar jawaban "ya atau tidak" atas permintaan AS. Sebaliknya, tanggapan tersebut lebih bersifat penjelasan dan klarifikasi mengenai posisi Iran terhadap proposal yang diajukan Washington.

Salah satu isu yang mengemuka dalam pembahasan adalah soal kepemilikan senjata nuklir. Abbas menilai Iran akan menunjukkan sikap yang lebih fleksibel dalam masalah ini.

"Saya pikir Teheran selama ini terbuka terhadap transparansi dan inspeksi yang dilakukan oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA)," ujarnya.

Menurut Abbas, apabila kedua belah pihak mampu mencapai titik temu, hal itu dapat menciptakan atmosfer yang kondusif untuk membangun rasa saling percaya. Namun, ia juga mengingatkan adanya potensi kebuntuan jika AS tetap bersikukuh pada sejumlah tuntutan.

"Tapi, jika AS ingin meneruskan permintaannya seperti Iran harus mengirim uranium yang telah diperkaya miliknya ke AS atau meminta penghentian upaya pengayaan untuk jangka waktu yang lama, saya pikir kesepakatan tidak akan terjadi," kata Abbas menegaskan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar