Gangguan pasokan global asam sulfat akibat blokade di Selat Hormuz mendorong lonjakan harga yang signifikan di pasar internasional. Bahan baku industri yang menjadi komponen krusial dalam produksi pupuk serta proses pelarutan tembaga dan berbagai logam lainnya ini sebagian besar berasal dari kilang-kilang minyak di kawasan Teluk Persia.
Menurut laporan media internasional, ketegangan geopolitik yang memicu blokade tersebut telah memutus jalur distribusi utama. Akibatnya, China yang merupakan produsen asam sulfat terbesar di dunia mengambil langkah darurat dengan membatasi ekspor mulai bulan ini.
"Ancaman terhadap pasar pupuk mendorong China, produsen asam terbesar di dunia, untuk membatasi ekspor bulan ini," ujar Freda Gordon, pakar pasar sekaligus Head of Acuity Commodities.
"Langkah tersebut menyebabkan harga naik dan semakin memperburuk kekurangan asam sulfat," lanjutnya.
Sementara itu, kebijakan pembatasan ekspor dari China mulai dipertimbangkan secara serius pada Mei 2026. Keputusan ini diambil di tengah konflik Timur Tengah yang terus memicu ketidakpastian pasokan global. Dua negara yang diperkirakan paling terdampak oleh kebijakan tersebut adalah Chile dan Indonesia, yang selama ini bergantung pada impor asam sulfat untuk mendukung sektor industri dan pertambangannya.
Artikel Terkait
AS Serang Gudang Rudal Iran di Pesisir Selatan, Garda Revolusi Balas Serang Instalasi Militer AS
Pre-order GTA VI Dibuka, Harga Termurah Rp 1,19 Juta untuk PlayStation 5 dan Xbox Series X|S
Polisi Bongkar Praktik Judi Berkedok Timezone di Jakarta, Omzet Capai Rp2,1 Miliar per Bulan
Bupati Gowa Minta Pansus Hak Angket Tak Masuk ke Ranah Pribadi