IDXChannel – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, atau yang lebih akrab disapa BRI (BBRI), kembali menegaskan sikapnya. Di tengah ekonomi global yang serba tidak menentu dan ketidakpastian geopolitik yang makin panas, mereka tetap ingin tumbuh. Tapi bukan asal tumbuh mereka ingin sehat dan berkelanjutan.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, buka suara soal strategi ke depan. Menurut dia, perseroan kini makin ketat dalam mengawasi risiko kredit. Apalagi di segmen UMKM, yang memang jadi tulang punggung bisnis mereka. Menariknya, Hery justru melihat segmen ini punya kelebihan tersendiri.
“Kami melihat bahwa struktur bisnis BRI yang berbasis pada segmen UMKM, justru memberikan tingkat resiliensi yang relatif baik karena karakteristiknya yang bersifat granular dan tidak terpusat pada satu segmen tertentu. Dan jumlahnya juga kecil-kecil ya, beda dengan korporasi kalau satu loan itu bisa triliunan, ini kan tidak terlalu besar,” ujar Hery dalam konferensi pers virtual, Kamis (30/4/2026).
Meski secara umum aset mereka masih terjaga, bukan berarti BRI lengah. Mereka sudah memetakan sektor-sektor yang paling rawan kena dampak gejolak ekonomi global. Sektor yang terkait komoditas ekspor, fluktuasi harga energi, sampai nilai tukar semua masuk dalam radar ketat tim manajemen risiko.
Nah, untuk mengantisipasi kualitas kredit yang memburuk, BRI punya jurus andalan. Namanya selective growth, alias tumbuh tapi pilih-pilih. Caranya dengan menerapkan kriteria penerimaan risiko yang ketat atau dalam istilah mereka, Risk Acceptance Criteria (RAC).
“Manajemen risiko tentunya di awal akan menentukan RAC. Jadi bisnis itu akan masuk ke segmen mana saja, kemudian subsegmen mana saja dengan RAC yang terukur dan terjaga. Ini penting sehingga kita punya pattern untuk masuk ke segmen-segmen yang memang kita yakini masih memiliki profitability yang baik ataupun juga dengan kualitas yang baik,” kata Hery.
Di sisi lain, Hery juga menekankan satu hal: jangan sampai tergoda mengejar volume pinjaman semata. Kualitas pertumbuhan, katanya, jauh lebih penting. Menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan kualitas aset itu, menurut dia, tantangan sesungguhnya bagi para bankir di masa sulit seperti sekarang.
Dia bahkan mengingatkan dengan nada agak keras. Pertumbuhan yang mengabaikan kualitas, kata Hery, ibarat bom waktu. Suatu saat akan meledak.
“Kita tentunya ingin tumbuh, tapi tumbuh dengan sehat, tumbuh dengan sustain (berkelanjutan). Kalau volumenya naik tapi kualitasnya tidak dijaga ya itu namanya nunggu waktu saja itu akan menuai badai di belakang hari. Di sinilah para bankir itu diuji, gimana caranya menjalankan bisnis di saat kondisi yang tidak terlalu kondusif,” ujarnya.
Bagaimana hasilnya sejauh ini? Hingga kuartal I-2026, kualitas aset BRI menunjukkan perbaikan. Rasio Loan at Risk (LAR) berhasil ditekan ke angka 9,7 persen. Bandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang masih di posisi 11,1 persen. BRI juga mengandalkan sistem early warning signal untuk mendeteksi potensi risiko kredit sejak dini. Semacam alarm, supaya tidak kaget di tengah jalan.
Artikel Terkait
Mantan Direktur Kemendikbudristek Sri Wahyuningsih Divonis 4 Tahun Penjara atas Korupsi Pengadaan Laptop
Empat WNI Disandera di Perairan Somalia, Kemlu Intensifkan Koordinasi Penyelamatan
Bank Indonesia Resmi Aktifkan Pembayaran QRIS-Terintegrasi dengan China, Wisatawan Tak Perlu Bawa Uang Tunai
Feedzai Peringatkan Lonjakan Penipuan Online dan Perdagangan Orang Jelang Piala Dunia 2026