Kemendiktisaintek Akan Kaji Ulang Program Studi Perguruan Tingi untuk Tekan Angka Pengangguran Lulusan

- Senin, 27 April 2026 | 13:40 WIB
Kemendiktisaintek Akan Kaji Ulang Program Studi Perguruan Tingi untuk Tekan Angka Pengangguran Lulusan

JAKARTA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) berencana mengkaji ulang program studi di perguruan tinggi. Tujuannya jelas: menyelaraskan prodi dengan kebutuhan industri. Soalnya, angka lulusan yang nganggur cukup tinggi. Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukonco, blak-blakan soal ini. Menurut dia, penyesuaian ulang perlu dilakukan. Kalau perlu, prodi yang sudah nggak relevan bakal ditutup. “Dalam waktu yang tidak terlalu lama, terkait dengan prodi-prodi perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi ini,” ujar Badri dalam tayangan YouTube Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Senin (27/4/2026). Di sisi lain, kajian ini juga akan mengidentifikasi prodi apa saja yang sebenarnya dibutuhkan dunia kerja di masa depan. Bukan cuma soal menutup, tapi juga membuka peluang baru. “Sebenarnya yang dibutuhkan itu prodi apa ke depan, itu yang akan kita coba susun nanti bersama,” tuturnya. Badri pun berharap dukungan dari Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PTPK) dalam proses ini. Dia menekankan, bonus demografi yang sering digembar-gemborkan nggak akan ada artinya kalau pendidikan tinggi gagal menjembatani lulusan dengan kebutuhan industri. “Memang saat ini bonus demografi digaungkan di mana-mana, tapi kalau pendidikan tinggi yang diharapkan bisa mengantar untuk kita menjadi negara maju itu tidak kita sesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan ekonomi ke masa depan, tentunya akan tidak match,” kata Badri. Menurut dia, sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia selama ini pakai strategi "market driven". Artinya, mereka membuka prodi berdasarkan tren pasar semata. Akibatnya? Jumlah lulusan jadi berlebih "oversupply" dan banyak yang akhirnya menganggur. “Market driven itu apa? Yang lagi lari siapa dibuka gitu prodinya. Kemudian oversupply di situ,” ucapnya. Nah, dengan kajian ini, pemerintah berharap lulusan bisa lebih terserap. Target pertumbuhan ekonomi pun, kata Badri, bisa tercapai kalau semuanya sinkron.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar