IDXChannel – Wall Street melemah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026). Penyebab utamanya? Ketegangan antara AS dan Iran yang kembali memanas, ditambah ketidakpastian soal masa depan perundingan damai. Suasana di lantai bursa terasa berat.
Tapi, jangan buru-buru pesimis. Sejumlah perusahaan besar justru melaporkan hasil kuartalan yang lumayan positif. Nah, ini yang membantu menahan laju penurunan setidaknya agar tidak semakin dalam.
Menurut laporan yang beredar Jumat (23/4/2026), Indeks S&P 500 tergelincir 0,4 persen ke posisi 7.108,97 poin. Meski begitu, sempat ada momen manis di pagi hari ketika indeks ini menyentuh rekor intraday baru di angka 7.147,78 poin. Sayang, tak bertahan lama.
NASDAQ Composite, yang sarat dengan saham teknologi, turun lebih tajam 0,9 persen menjadi 24.438,50 poin. Dow Jones Industrial Average, kumpulan saham blue-chip, juga ikut merosot 0,4 persen ke 49.309,33 poin.
Keith Lerner, Kepala Investian sekaligus Kepala Strategi Pasar di Truist, coba menjelaskan situasi ini. Katanya, setelah reli bersejarah, wajar kalau investor mulai mengambil untung. Apalagi harga minyak kembali merangkak naik dan situasi di Timur Tengah makin keruh. Tapi, ia tetap optimistis.
“Musim laporan keuangan sejauh ini berjalan baik. Itu seharusnya bisa meredam sebagian tekanan. Pasar bullish masih layak dipercaya, meski dalam jangka pendek kita mungkin bakal lihat perdagangan yang lebih bergejolak,” ujarnya kepada Investing.com.
Di sisi lain, soal Iran, situasinya memang agak rumit. Presiden Donald Trump memang sudah mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran pada Selasa lalu. Tapi nyatanya, ketegangan justru meningkat terutama di sekitar Selat Hormuz. Aktivitas angkatan laut di sana makin sengit.
Militer AS mengklaim telah menahan sebuah kapal tanker minyak yang diduga berafiliasi dengan Iran. Departemen Pertahanan bahkan merilis rekaman yang memperlihatkan tentara Amerika berdiri di dek kapal di Samudera Hindia. Sementara itu, Iran juga punya versi cerita sendiri mereka mengeluarkan video yang menunjukkan tentaranya menaiki kapal kargo di dekat selat tersebut.
Menurut sejumlah laporan, Teheran sebelumnya menyerang tiga kapal di selat itu pada hari Rabu, dan dua di antaranya berhasil disita. Titik api utama sebenarnya adalah blokade laut yang dilakukan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Komando Pusat AS mengaku sudah mengalihkan 33 kapal sejak blokade dimulai.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bereaksi keras. Ia menyebut blokade itu sebagai “tindakan perang.” Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga angkat bicara. Katanya, “gencatan senjata total hanya masuk akal jika tidak dilanggar oleh blokade maritim.”
Trump, pada hari Kamis, mengeluarkan perintah yang cukup tegas. Ia memerintahkan angkatan laut AS untuk “menembak dan membunuh kapal apa pun” yang berani menempatkan ranjau di perairan Selat Hormuz.
“Kapal penyapu ranjau kami sedang membersihkan Selat saat ini. Saya perintahkan aktivitas itu dilanjutkan, tapi dengan tiga kali lipat!” tulisnya di Truth, media sosial miliknya.
Dalam unggahan lain, Trump juga menyebut bahwa AS memiliki “kendali penuh” atas selat tersebut. “Tidak ada kapal yang bisa masuk atau keluar tanpa persetujuan Amerika. Selat itu ‘tertutup rapat,’ sampai Iran mampu membuat KESEPAKATAN!!!” tulisnya dengan huruf kapital.
Belum puas, ia kembali menambahkan bahwa kesepakatan dengan Iran “hanya akan dibuat ketika itu tepat dan baik untuk Amerika Serikat, Sekutu kita, dan, pada kenyataannya, seluruh dunia.”
(kunthi fahmar sandy)
Artikel Terkait
Kemnaker Blacklist Perusahaan Nakal di Program Magang Nasional Batch I
Wamenaker: Sertifikasi Kini Jadi Nilai Tambah Pekerja di Tengah Perubahan Dunia Industri
Trump Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran, Ketegangan di Selat Hormuz Justru Meningkat
Makmur, OJK, dan APRDI Gelar Literasi Investasi bagi 400 Mahasiswa di Makassar