Rencana investasi besar-besaran dari China untuk sektor peternakan di Indonesia mulai menemui bentuknya. Kali ini, gabungan pengusaha dari Negeri Tirai Bambu itu menyiapkan dana hingga Rp1,4 triliun. Targetnya? Membangun industri hilir unggas, dan Provinsi Aceh dipilih sebagai lokasi pertama.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia lah yang sedang menggodok kerja sama ini. Menurut Ketua Kadin, Anindya Novyan Bakrie, suntikan dana segar ini akan menambah pundi-pundi investasi China di Indonesia yang ditargetkan tembus Rp80 triliun pada 2025 nanti. Tak cuma soal uang, Anindya menilai proyek ini akan membawa transfer teknologi dan pengetahuan yang sangat dibutuhkan industri lokal.
"Kita menyaksikan bahwa dari China bisa membantu kita untuk ketahanan pangan," ujar Anindya.
Dia menambahkan, "Pada zaman sekarang itu membutuhkan suatu inovasi baru, terobosan baru, relasi baru untuk bisa menggerakkan ekonomi." Pernyataan itu disampaikannya dalam pertemuan dengan para pengusaha China di Menara Kadin, Jakarta, Selasa lalu.
Rupanya, pembicaraan serius soal ini sudah berjalan sejak Maret 2026, saat rombongan Kadin Aceh berkunjung ke China. Ketua Kadin Aceh, Muhammad Iqbal, mengungkapkan fokus investasi akan diarahkan pada produksi ayam beserta aneka produk turunannya.
"Kami sedang merencanakan investasi dengan menghadirkan investor skala besar di bidang unggas," kata Iqbal.
Dia tak ragu menyambut kedatangan modal tersebut. "Dengan total komitmen lebih dari Rp1,2 triliun, kami di Aceh telah menggelar karpet merah," tegasnya.
Nah, unggas bukan satu-satunya yang disasar. Rencananya, akan dibangun pula fasilitas pengolahan susu senilai 100 juta RMB atau sekitar Rp252 miliar. Belum lagi sarana peternakan terintegrasi dengan nilai investasi yang lebih besar lagi, sekitar 450 juta RMB atau setara Rp1,13 triliun.
Iqbal melihat sinergi yang bagus di sini. Menurutnya, kerja sama ini tak hanya akan meningkatkan stok unggas untuk kebutuhan lokal, tetapi juga mendukung program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang rantai pasoknya sebagian dijalankan oleh dapur-dapur milik Kadin.
"Kami melihat masa depan di mana teknologi mutakhir China bersinergi sempurna dengan ketersediaan lahan dan sumber daya kami," papar Iqbal. "Inilah wujud nyata dari win-win corporation."
Angkanya pun cukup fantastis. Kadin memperkirakan, hanya untuk program MBG di Aceh, dibutuhkan sekitar 600 ribu butir telur per hari. Secara nasional, kebutuhan telur melonjak hingga 700 juta butir setiap bulannya.
Di sisi lain, niat investor China juga terlihat jelas. Pimpinan delegasi industri, Wang Zhongqiang, menyatakan kesiapan mereka untuk memulai hilirisasi, dimulai dari ayam.
"Tujuan dari bisnis ini sebenarnya, mereka (pengusaha) berharap dapat mengekspor lebih banyak produk dari China ke pasar Indonesia," ungkap Wang.
Tak cuma ekspor, beberapa dari mereka bahkan sudah punya rencana lebih jauh. "Selain itu, beberapa delegasi sebenarnya memiliki rencana untuk mendirikan pabrik di Indonesia," tambahnya.
Jadi, ini bukan sekadar wacana. Semuanya bergerak, dan Aceh bersiap menjadi episentrum baru industri unggas nasional.
Artikel Terkait
Kemenhaj Siapkan 118 Hotel untuk 103 Ribu Jemaah Haji Indonesia di Madinah
Presiden Prabowo Dapat Apresiasi PM Australia Atas Ekspor Pupuk Urea 250 Ribu Ton
Gencatan Senjata AS-Iran Diperpanjang atas Permintaan Pakistan, Blokade Tetap Berjalan
Iran Tegas: Tak Ada Perundingan dengan AS Selama Blokade Pelabuhan Berlanjut