Uji coba bahan bakar biodiesel B50 di sektor otomotif terus digenjot oleh Kementerian ESDM. Langkah ini bukan cuma isapan jempol belaka, tapi bagian dari upaya serius menuju ketahanan energi nasional. Menurut Eniya Listiani Dewi, Dirjen EBTKE, rangkaian uji ini sudah dimulai dari laboratorium di awal 2025.
“Awal 2025 kita sudah melakukan uji teknis laboratorium dan sudah selesai di pertengahan tahun lalu,” jelas Eniya saat ditemui di Lembang, Kabupaten Bandung, Selasa (21/4/2026).
Dia melanjutkan, “Lalu kita memang sudah melakukan kick off dan serentak uji di 6 sektor. Jadi otomotif, tambang, alat pertanian, kelautan, lalu pembangkit, satu lagi kereta. Nah itu serentak dilakukan mulai tanggal 9 Desember 2025.”
Jadi, setelah tahap lab beres, uji jalan langsung digelar serentak di berbagai sektor pengguna mesin diesel. Mulai dari angkutan laut, alat berat tambang, kereta api, hingga pembangkit listrik. Namun begitu, sektor otomotif memang jadi perhatian khusus. Semua proses dilakukan bertahap dan terukur, mencakup beragam tipe kendaraan dan kondisi operasional, demi memastikan standar keandalan dan keselamatan tetap terjaga.
Hasil sementara hingga April 2026 terbilang menggembirakan. Penggunaan B50 pada kendaraan diesel dinilai aman, tanpa kendala signifikan. Untuk kendaraan berat di atas 3,5 ton, target jarak tempuh 40.000 km bahkan sudah tercapai semua. Sementara untuk kendaraan ringan di bawah 3,5 ton, baru mencapai 40.000 km dari target akhir 50.000 km.
“Bulan Mei nanti semua (kendaraan) sektor otomotif untuk di bawah 3,5 ton mencapai target 50.000 km,” tambah Eniya. “Setelah selesai 50.000 km, nanti ada pengecekan semua engine.”
Pengecekan menyeluruh itu penting. Tujuannya untuk melihat dampak B50 terhadap mesin setelah melalui jarak tempuh yang ditetapkan. Sejauh ini, kondisi mesin dan filter bahan bakar masih dalam kategori baik, masih sesuai batas standar pabrikan.
Respons dari industri pun positif. Abdul Rochim dari Gaikindo menyambut baik hasil sementara uji jalan ini.
“Jadi kalau kami dari Gaikindo memandang hasil akhirnya bisa bertahan seperti ini, seperti hasil sementara ini, tentunya kami sangat senang,” ujar Rochim. “Kami berharap bahwa spek bahan bakar yang digunakan untuk uji ini menjadi spek untuk implementasi B50.”
Harapannya jelas: spesifikasi bahan bakar dari uji coba ini bisa langsung diterapkan nanti. Dari sisi teknis, kualitas bahan bakar B100 untuk campuran 50% ini sudah memenuhi syarat. Ada perbaikan signifikan pada beberapa parameter krusial seperti kadar air, monogliserida, dan kestabilan oksidasi sesuai rekomendasi Komite Teknis Bioenergi Cair.
Yang juga menggembirakan, performa kendaraan tetap stabil. Konsumsi bahan bakar masih dalam rentang standar, tanpa penurunan performa yang berarti. Hasil pengujian emisi pun menunjukkan kadar karbon monoksida dan opasitas masih di bawah batas ambang yang ditetapkan. Komponen mesin, pelumas, hingga sistem bahan bakar semuanya dalam kondisi baik selama masa pengujian.
Di sisi lain, Eniya menegaskan bahwa pengembangan B50 ini adalah strategi jangka panjang. Ini soal kemandirian energi, memanfaatkan sumber daya domestik yang terbarukan.
“Sebagai bagian dari komitmen menuju kemandirian energi, pemerintah memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil didasarkan pada hasil uji yang komprehensif, terukur ilmiah, dan mengedepankan prinsip kehati-hatian,” pungkasnya.
Intinya, semua langkah diambil dengan hati-hati. Mempertimbangkan segala aspek, agar manfaatnya benar-benar optimal bagi masyarakat dan perekonomian nasional ke depannya.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Dapat Apresiasi PM Australia Atas Ekspor Pupuk Urea 250 Ribu Ton
China Siapkan Rp1,4 Triliun untuk Bangun Industri Hilir Unggas di Aceh
Gencatan Senjata AS-Iran Diperpanjang atas Permintaan Pakistan, Blokade Tetap Berjalan
Iran Tegas: Tak Ada Perundingan dengan AS Selama Blokade Pelabuhan Berlanjut