Hari pertama UTBK SNBT 2026 di Universitas Negeri Jakarta berjalan mulus. Kondusif. Hingga sesi pertama usai, panitia setempat mengaku belum menemukan satu pun praktik kecurangan dari para peserta ujian. Ini tentu kabar baik, mengingat tahun-tahun sebelumnya sempat diwarnai berbagai kasus yang meresahkan.
Menurut Tjitjik Srie Tjahjandarie dari Panitia SNPMB Pusat, situasi ini tak lantas membuat mereka lengah. Pengawasan justru akan diperketat untuk sesi-sesi selanjutnya.
"Alhamdulillah, sesi 1 lancar. Tidak ada indikasi-indikasi kecurangan di sesi 1," ujar Tjitjik di lokasi UNJ, Selasa (21/4/2026).
"Tapi kan ini kita tetap melakukan monitoring yang cukup ketat, pelaksanaannya juga pengawasannya juga menjadi lebih aware untuk setiap UTBK, karena kan kita masih punya sesi-sesi yang selanjutnya."
Kesiapan tahun ini, kata dia, buah dari evaluasi mendalam atas maraknya kecurangan di masa lalu. Bahkan, panitia kini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk mendeteksi identitas peserta. Tujuannya jelas: memangkas praktik 'joki ujian' yang sulit diberantas.
"Tahun ini pun misalnya kita itu sudah punya data anomali, ada 2.940 data anomali. Nah, ini kan sebenarnya kita bagikan kepada masing-masing pusat UTBK," ungkap Tjitjik.
"Mulai tahun ini, kita melakukan deteksi dengan menggunakan teknologi AI. Jadi kita bisa mendeteksi wajah, kalau kemudian misalnya ada kecurangan dalam bentuk joki."
Teknologi ini ternyata cukup canggih. Bisa melacak rekam jejak seseorang yang kerap menjadi joki dari tahun ke tahun.
“Kita juga melakukan deteksi AI wajah itu pada peserta tahun yang lalu. Ternyata ada modus-modus yang joki tahun lalu ternyata sekarang juga menjadi joki lagi,” jelasnya.
Sementara di lokasi, UNJ sendiri tak mau ketinggalan. Wakil Rektor I, Prof. Dr. Ifan Iskandar, menegaskan pemeriksaan terhadap peserta dilakukan sangat ketat. Barang-barang pribadi seperti ponsel sama sekali dilarang dibawa masuk ruang ujian.
"Peserta itu praktis kan tidak perlu membawa apa pun di dalam ruang ujian karena mereka hanya perlu menandatangani album kehadiran, selebihnya kan menggunakan komputer," tegas Ifan.
"Tidak ada peralatan yang sifatnya personal yang diperkenankan dibawa masuk kecuali mungkin obat-obat yang memang diperlukan untuk kondisi tertentu."
Langkah pengamanan lain yang diterapkan adalah penggunaan metal detector. Ini sudah jadi standar wajib di UNJ selama enam hingga tujuh tahun terakhir. Pengalaman pahit menemukan alat bantu curang yang disembunyikan di tubuh peserta jadi alasannya.
"Pemeriksaan ini sudah kami lakukan selama 6-7 tahun terakhir dan memang kami menemukan alat bantu yang digunakan oleh peserta yang melakukan kecurangan mulai dari yang sifatnya ditempel di anggota tubuh atau yang ditanam di sekitar telinga peserta," pungkas Ifan.
"Jadi dengan ditemukannya kecurangan itu di kami di UNJ dalam beberapa tahun terakhir maka kami sudah mengantisipasi dengan cara yang seperti itu."
Semua langkah itu, rupanya, membuahkan hasil yang positif di hari pertama ini. Tinggal menunggu sesi-sesi berikutnya.
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Lantik Lima Pejabat Eselon II Baru di Tengah Gejolak Ekonomi Global
Kampanye Humor Militer Thailand Sukses Rekrut Lebih dari 30.000 Sukarelawan
BNI Pastikan Pengembalian Dana Rp28 Miliar Credit Union Aek Nabara Besok
Kebakaran Sandakan Hanguskan Ratusan Rumah, 13 WNI Selamat dan Ditampung