Di Gedung Putih, sikap Donald Trump terlihat santai. Presiden Amerika Serikat itu dengan tegas menyatakan negaranya tidak merasa tertekan oleh ancaman Iran yang kembali menutup Selat Hormuz. "Kami sedang berbicara dengan mereka," ujarnya dalam sebuah acara, Minggu lalu. "Mereka ingin menutup selat itu lagi. Mereka tidak bisa memeras kami."
Pernyataan Trump ini muncul sebagai bantahan langsung terhadap langkah Teheran. Sehari sebelumnya, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran sudah bersuara. Mereka bertekad mengendalikan lalu lintas di selat strategis itu sampai perang benar-benar berakhir dan perdamaian permanen terwujud di kawasan.
Padahal, situasi sempat mereda. Pada Jumat, baik Washington maupun Teheran sama-sama mengonfirmasi bahwa selat tersebut telah dibuka sepenuhnya untuk kapal-kapal komersial. Rupanya, gencatan senjata itu hanya berlangsung singkat.
Tak lama setelah pengumuman pembukaan, Trump kembali menyalakan api melalui platform Truth Social-nya. Ia menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap kapal dan pelabuhan Iran akan tetap berlaku penuh. Sikap keras ini, tentu saja, langsung menuai reaksi.
Iran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan peringatan keras: Selat Hormuz akan ditutup kembali jika blokade AS terus berlanjut. Ancaman ini bukan omong kosong, dan buktinya terlihat di lapangan.
Data pelacakan kapal pada Sabtu menunjukkan situasi yang kacau. Sekitar sepuluh kapal terpaksa berbalik arah saat mencoba melintasi jalur air sempit itu. Mereka terpaksa mundur menyusul penutupan kembali oleh otoritas Iran.
Jadi, meski pembicaraan masih berlangsung, ketegangan di lapangan justru semakin memanas. Kedua pihak saling bersikukuh dengan posisinya, sementara lalu lintas perdagangan global kembali terhambat di salah satu jalur laut paling vital di dunia.
Artikel Terkait
Impor Minyak China Anjlok 38 Persen Akibat Gangguan Jalur Hormuz, Cadangan Strategis Jadi Penopang
Polri Mediasi Sengketa PHK 131 Pekerja, Perusahaan Bayar Kompensasi Rp10 Miliar
AS Naikkan Level Ancaman Intelijen Israel ke ‘Kritis’ Akibat Dugaan Spionase terhadap Pejabat Tinggi Washington
Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Kerja Padat Karya sebagai Bantalan Sosial Tekanan Ekonomi