Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengonfirmasi rencana negosiasi Petronas dengan Rusia untuk pengadaan minyak. Langkah ini ditempuh demi menjamin kecukupan pasokan energi dalam negeri. Ternyata, Malaysia tak sendirian. Mereka mengikuti langkah serupa yang sudah diambil oleh beberapa tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Menurut Anwar, ada ironi yang menarik di sini. Banyak negara Barat yang sebelumnya getol menjatuhkan sanksi, kini justru ramai-ramai berebut membeli minyak Rusia juga. Situasinya berubah, dan Malaysia merasa punya posisi tawar.
“Untungnya, hubungan kita dengan Rusia tetap baik. Oleh karena itu, tim Petronas dapat bernegosiasi dengan mereka,”
ujar Anwar dalam sebuah acara, seperti yang dilaporkan media lokal.
Di sisi lain, Anwar juga menyoroti keberhasilan lain yang patut disyukuri. Sebuah kapal tanker minyak Malaysia baru-baru ini berhasil melintasi Selat Hormuz dengan selamat. Ini adalah kabar baik, karena mencegah potensi gangguan besar pada rantai pasokan energi nasional.
Ia tak menampik bahwa ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, AS, dan Eropa memang berdampak nyata. Pengaruhnya terasa mulai dari aktivitas pelayaran, fluktuasi harga minyak mentah, hingga pasokan pupuk yang krusial bagi sektor pertanian.
“Alhamdulillah, sebuah kapal tanker minyak Petronas telah tiba dengan selamat di Kompleks Terpadu Pengerang. Pengiriman ini sangat penting,”
tutupnya, menekankan betapa vitalnya keberhasilan pengiriman tersebut.
Artikel Terkait
Presiden Partai Buruh Said Iqbal Dijadwalkan Dilantik sebagai Penasihat Presiden Bidang Ketenagakerjaan
Ancaman Gagal Bayar AS Mengintai jika Rasio Utang Capai 210 Persen, PWBM Beri Peringatan
16,46 Juta UMKM Manfaatkan Platform LinkUMKM BRI untuk Perluas Akses Pasar dan Naik Kelas
Prabowo: Pendidikan dan Pelatihan di Semua Sektor Kunci Utama Kesejahteraan Rakyat