Iran Tutup Kembali Selat Hormuz Menyusul Ancaman Blokade AS dari Trump

- Sabtu, 18 April 2026 | 18:50 WIB
Iran Tutup Kembali Selat Hormuz Menyusul Ancaman Blokade AS dari Trump

Selat Hormuz kembali ditutup. Itulah pengumuman resmi militer Iran pada 18 April, hanya hitungan jam setelah mereka membukanya untuk lalu lintas kapal. Padahal, sebelumnya lebih dari selusin kapal komersial sudah sempat melintas di jalur air sempit yang jadi urat nadi energi global itu.

Menurut laporan Strait Times, langkah pembukaan sebelumnya sempat bikin pasar bergairah. Teheran awalnya membuka selat setelah gencatan senjata di Lebanon disepakati, yang bertujuan menghentikan perang Israel melawan Hezbollah. Jalur ini kan vital sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewatinya. Wajar saja, kabar bukanya selat langsung bikin harga minyak dunia anjlok.

Tapi euforia itu ternyata singkat. Pemicu baliknya sikap Iran adalah pernyataan keras dari mantan Presiden AS Donald Trump. Dia menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran akan terus berlanjut sampai ada kesepakatan. Nah, ancaman itu langsung dibalas Teheran dengan menutup kembali selat.

“Kendali atas Selat Hormuz telah kembali ke status sebelumnya dan kini berada di bawah pengelolaan ketat angkatan bersenjata,” begitu bunyi laporan televisi pemerintah Iran pagi itu. Mereka menyebut ini sebagai respons langsung terhadap blokade AS yang masih berlangsung.

Di lapangan, situasinya pun riuh. Situs pelacakan maritim menunjukkan sejumlah kapal berusaha buru-buru melintas, berlayar sedekat mungkin dengan perairan teritorial Iran seperti yang diinstruksikan. Ada yang berhasil, ada yang gagal. Hingga pukul 10.30 waktu setempat, setidaknya delapan kapal tanker minyak dan gas sudah melintas. Sementara itu, jumlah yang sama diperkirakan berbalik arah, mundur setelah sempat mencoba keluar dari Teluk.

Waktunya memang makin mepet. Tinggal empat hari lagi sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir. Perang antara AS-Israel melawan Iran sendiri sudah berkecamuk sejak 28 Februari lalu.

Meski situasanya tegang, Trump terlihat masih optimis. Pada 17 April, dia menyebut proses menuju kesepakatan itu “sangat besar dan brilliant”. Trump juga memuji peran Pakistan sebagai mediator.

Pujian itu mungkin bukan tanpa alasan. Kepala militer Pakistan, Jenderal Asim Munir, baru saja menyelesaikan kunjungan tiga hari ke Iran pada 18 April. Tujuannya jelas: mendorong kesepakatan damai, termasuk dengan bertemu pimpinan tertinggi Iran.

Di sisi lain, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga tak kalah sibuk. Dia berkeliling ke Arab Saudi, Qatar, dan Turki untuk mempercepat proses perdamaian. Upaya kolektif ini rupanya menumbuhkan harapan.

Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, menyatakan optimisme yang sama. Menurutnya, Kairo dan Islamabad sama-sama berharap kesepakatan final bisa tercapai dalam hitungan hari ke depan.

Pakistan kini benar-benar muncul sebagai penengah kunci. Mereka bahkan menjadi tuan rumah pembicaraan langsung maraton akhir pekan lalu, yang dihadiri oleh Wakil Presiden AS J.D. Vance. Rencananya, putaran kedua pembicaraan akan digelar di ibu kota Pakistan pekan ini. Harapannya besar: mengakhiri perang yang telah memanas ini.

Jadi, meski Selat Hormuz kembali terkunci dan ketegangan masih tinggi, diplomasi terus berdenyut kencang di belakang layar. Semuanya berpacu dengan waktu.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar