Program Sekolah Rakyat Hidupkan Kembali Impian Siswa Putus Sekolah di Boyolali

- Sabtu, 18 April 2026 | 08:15 WIB
Program Sekolah Rakyat Hidupkan Kembali Impian Siswa Putus Sekolah di Boyolali

Dua tahun lalu, bagi Syifa Syafitri, melanjutkan sekolah adalah hal yang mustahil. Impian itu pupus begitu saja. Remaja asal Desa Kayu Lawang, Boyolali ini terpaksa berhenti di kelas 8 SMP. Penyebabnya klasik, tapi terasa sangat berat: ekonomi keluarga yang tak memungkinkan.

Penghasilan orang tuanya benar-benar tak cukup. Ayahnya mencari nafkah sebagai pemulung, sementara ibunya berjuang dengan berjualan pakaian bekas. Di tengah kondisi itu, Syifa yang merupakan anak sulung dari lima bersaudara merasa harus ikhlas. Ia pun mengubur dalam-dalam cita-citanya bekerja di sektor pertambangan.

"Saya putus sekolah di tahun ajaran 2024, di kelas 8 menuju semester dua akhir karena ekonomi keluarga saya," kenang Syifa.

Selepas dari bangku sekolah, hidupnya diisi dengan membantu keluarga. Ia mengurus adik-adiknya dan turun tangan membantu ibunya; memilah, mencuci, hingga menjajakan baju bekas. "Nanti juga pas jualan baju juga sama ibu, berdua terus," tuturnya tentang rutinitasnya kala itu.

Namun begitu, ceritanya tak berakhir di situ. Kini, harapan itu hidup kembali. Lewat program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto, Syifa mendapat kesempatan untuk kembali belajar. Ia kini bisa melanjutkan pendidikan di kelas 8, secara gratis, di SR SMP 78 Sragen.

Rasanya tentu senang. Bukan cuma karena bisa kembali bersekolah, tapi juga karena fasilitas yang diterimanya ternyata sangat mendukung. Ia mendapatkan makan gratis tiga kali sehari, ditambah kudapan dua kali. Ada juga asrama gratis, lengkap dengan seragam dan baju tidur. Bahkan, satu unit laptop dan ponsel pintar turut diberikan.

"Seragam dan baju tidur serta baju untuk di asrama juga dikasih dari Sekolah Rakyat tanpa dipungut sepeser biaya apapun," katanya dengan nada bersyukur.

Menurut Syifa, bersekolah di sana bukan cuma soal akademik. Ia juga dibekali beragam kegiatan ekstrakurikuler, mulai dari olahraga, kesenian, hingga bahasa. Yang tak kalah penting, ia belajar tentang kemandirian dan kedisiplinan dalam keseharian.

"Jadi kalau bangun subuh itu sudah enggak dibangunin lagi dari wali asuh dan wali asrama, tapi diri kita sendiri. Terus juga kita cuci baju sendiri," ujarnya menjelaskan perubahan dalam dirinya.

Atas semua kesempatan ini, Syifa menyampaikan terima kasih yang tulus. Ia pun memanjatkan doa untuk sang pemberi harapan.

"Semoga Bapak Prabowo, Bapak Gibran, dan Bapak-Ibu yang ada di belakang Sekolah Rakyat bisa sehat selalu, panjang umurnya, rezekinya dilancarkan," harap Syifa.

Dari seorang yang nyaris menyerah, kini ia kembali menatap masa depan. Impian bekerja di pertambangan yang sempat tertunda, pelan-pelan dihidupkannya lagi.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar