Usai rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Kamis lalu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berbicara panjang lebar soal arah kerja sama ekonomi Indonesia. Intinya, menurut Bahlil, Indonesia punya prinsip ekonomi bebas aktif. Prinsip ini, katanya, berjalan seiring dengan politik luar negeri yang sudah lama kita anut.
"Pemerintah Indonesia selalu mengedepankan politik bebas aktif, dan dalam politik bebas aktif itu juga ada ekonomi bebas aktif," tegas Bahlil.
Dengan kata lain, Indonesia punya kebebasan untuk menjalin hubungan dagang dengan siapa saja. Bahlil kemudian menyebut beberapa nama. Rusia, misalnya. Lalu Nigeria di Afrika. Dan tentu saja, Amerika Serikat, yang sudah terikat perjanjian dengan kita.
"Jadi kita boleh belanja di mana saja," ujarnya, dengan nada santai namun tegas. "Selama kita komitmen dengan orang-orang atau negara-negara yang telah kita melakukan ajakan kerja sama, termasuk Rusia, kemudian Afrika Nigeria, dan lebih khusus yang kita hargai juga adalah termasuk dengan perjanjian kita dengan Amerika ya."
Pembicaraan kemudian merinci soal satu mitra tersebut: Rusia. Bahlil melaporkan, kunjungannya ke sana adalah tindak lanjut dari pertemuan Presiden Prabowo dengan Vladimir Putin. Fokusnya? Kerja sama energi untuk jangka panjang.
"Alhamdulillah hari ini saya melaporkan kepada Bapak Presiden," kata Bahlil. "Atas arahan dan perintah Bapak Presiden kemarin kami di Rusia untuk menindaklanjuti kesepakatan-kesepakatan antara pemimpin dari kedua negara... Di mana hasil-hasil kesepakatan itu adalah menyangkut dengan kerja sama jangka panjang, khususnya di bidang energi."
Lalu, mengapa kerja sama semacam ini jadi begitu krusial? Jawabannya terletak pada angka-angka yang memprihatinkan. Kebutuhan energi dalam negeri kita ternyata jauh melampaui produksi sendiri.
Bahlil membeberkan datanya. Konsumsi BBM nasional kita menyentuh 1,6 juta barel per hari. Sayangnya, produksi domestik atau lifting kita cuma bisa di angka 600-610 ribu barel. Celahnya besar. Sangat besar. Impor sekitar satu juta barel per hari masih menjadi kenyataan pahit yang harus kita telan.
"Di tengah kondisi global yang seperti ini, kita harus mampu mencari cadangan-cadangan minyak dari berbagai sumber," jelasnya. "Tidak hanya di satu negara tapi di hampir semua negara."
Nah, dari sinilah laporan dari Rusia tadi memberi secercah harapan. Menurut Bahlil, pertemuannya dengan Menteri ESDM Rusia dan utusan khusus Putin membawa kabar yang cukup menggembirakan.
"Alhamdulillah... kabarnya cukup menggembirakan bahwa kita akan mendapat pasokan crude dari Rusia," tuturnya. "Dan juga dari pihak Rusia akan siap membangun beberapa infrastruktur yang penting dalam rangka meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional kita."
Jadi, itulah langkah yang sedang diambil. Mencari solusi di tengah ketergantungan impor yang tinggi, dengan tetap berpegang pada prinsip kebebasan memilih mitra. Semua demi mengamankan pasokan energi ke depan.
Artikel Terkait
Bapanas Pantau Stabilitas Harga dan Pasokan Pangan di Banten Pasca-Lebaran
Kemenperin Antisipasi Gangguan Rantai Pasok Petrokimia Akibat Gejolak Selat Hormuz
Kementerian Kehutanan Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Riau Cegah Karhutla
Persija Kejar Puncak, Souza Soroti Konsistensi sebagai Kunci Juara