WASHINGTON Setelah pekan-pekan pertempuran sengit, Israel dan Lebanon akhirnya sepakat untuk menghentikan tembak-menembak. Gencatan senjata ini direncanakan berlangsung selama sepuluh hari, memberi ruang napas bagi warga sipil yang terjebak di tengah konflik. Peristiwa ini menjadi titik terang setelah konflik terbaru dengan kelompok Hizbullah Lebanon pecah awal Maret lalu, yang tak lepas dari perang lebih luas melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Pengumuman resmi datang dari Presiden AS Donald Trump. Melalui akun Truth Social-nya pada Kamis (16/4/2026), Trump menyatakan kesepakatan itu telah tercapai. Ini adalah jeda yang sangat dinantikan, mengingat konflik tersebut dikabarkan telah merenggut nyawa lebih dari dua ribu orang.
"Kedua pihak ingin menyaksikan perdamaian, dan saya yakin itu akan terjadi dengan cepat,"
tulis Trump dalam postingannya.
Menurut jadwal yang dirilis, gencatan senjata mulai berlaku Kamis lalu pukul 17.00 waktu AS bagian Timur. Atau, jika merujuk zona waktu Indonesia, tepatnya Jumat dini hari pukul 06.00 WIB.
Trump mengaku telah melakukan pembicaraan yang ia sebut "sangat baik" dengan para pemimpin dari kedua negara. Untuk memastikan gencatan ini bisa berlanjut ke perdamaian permanen, ia pun mengerahkan timnya. Wakil Presiden JD Vance, Menlu Marco Rubio, dan Jenderal Dan Caine dari Kepala Staf Gabungan diperintahkan untuk bekerja sama intens dengan Israel dan Lebanon.
Di sisi lain, jalan menuju kesepakatan ini ternyata berliku. Konflik meluas ke Lebanon pada 2 Maret setelah Hizbullah meluncurkan rudal ke Israel sebuah bentuk dukungan kepada Iran. Serangan itu langsung dibalas Israel dengan ofensif militer ke wilayah Lebanon.
Sebelumnya, Presiden Lebanon Joseph Aoun sudah mendesak Trump untuk turun tangan. Dalam panggilan telepon pertama mereka, Aoun meyakinkan Trump bahwa menghentikan serangan Israel ke Lebanon adalah kunci penting untuk mengakhiri seluruh rangkaian perang dengan Iran. Desakan itu rupanya membuahkan hasil.
Namun begitu, ada sedikit kebingungan soal posisi Iran. Kabarnya, Iran sempat memasukkan Lebanon dalam pakta gencatan senjata dengan AS yang diumumkan Trump pada 7 April. Tapi klaim itu kemudian dibantah sendiri oleh pihak AS dan Israel. Situasinya jadi agak keruh, tapi yang jelas sekarang ada jeda. Sepuluh hari kedamaian, sebelum negosiasi yang sesungguhnya dimulai.
Artikel Terkait
Persija Kejar Puncak, Souza Soroti Konsistensi sebagai Kunci Juara
Keluarga Kulon Progo Terdampar di Kolong Semanggi Usai Jadi Korban Copet
Kemlu Evakuasi 45 WNI dari Iran, 13 ABK Masih Menunggu di Baku
Pemerintah Pacu Biodiesel B50 dan E20 untuk Kurangi Ketergantungan Impor Energi