PDAM Makassar Ungkap Penyebab Krisis Air di Wilayah Utara: Sistem Gravitasi dan Penyedotan Liar

- Kamis, 16 April 2026 | 18:00 WIB
PDAM Makassar Ungkap Penyebab Krisis Air di Wilayah Utara: Sistem Gravitasi dan Penyedotan Liar

Warga di utara Makassar kembali merasakan dahaga. Pasokan air bersih yang kerap bermasalah itu pun jadi sorotan di gedung dewan.

Dalam Rapat Paripurna DPRD Kota Makassar, Rabu lalu, suara warga yang kesal akhirnya terdengar. Anggota dewan dari Fraksi PPP, Rahmat Taqwa Quraisy, menuntut jawaban konkret. Ia mempertanyakan langkah apa saja yang sudah diambil PDAM untuk mengatasi keluhan yang berulang ini.

Menanggapi tekanan itu, PDAM Makassar pun buka suara. Wahidin, Plt Kepala Bagian Distribusi dan Kehilangan Air, menjelaskan akar masalahnya. Menurutnya, kendala terbesar ada pada sistem distribusi yang masih mengandalkan gravitasi.

“Distribusi air ke wilayah utara menggunakan sistem gravitasi dari Panaikang dengan elevasi sekitar 13 meter. Dengan kondisi ini, tekanan air hanya mencapai sekitar 1,3 bar, jauh lebih rendah dibanding wilayah timur yang menggunakan pompa dengan tekanan hingga 4,7 bar,”

Ungkap Wahidin di ruang kerjanya, Kamis (16/4). Sistem itu, katanya, sangat bergantung pada ketinggian dan ukuran pipa. Wilayah utara yang berada di ujung jaringan jadi korban. Tekanan air melemah sebelum sampai ke keran pelanggan.

Namun begitu, masalahnya tak cuma di situ. Ada kabar buruk dari hulu. Debit air baku dari Bendung Lekopancing anjlok drastis dalam dua pekan terakhir.

Angkanya cukup mencengangkan. Dari normalnya 1.300 liter per detik, kini merosot tajam jadi cuma sekitar 360 liter per detik. Jaraknya yang jauh, sekitar 30 kilometer ke Panaikang, diperparah dengan penyedotan liar di sepanjang jalur.

“Air dari Lekopancing harus menempuh jarak sekitar 30 kilometer ke Panaikang. Namun di sepanjang jalur, sebagian air dimanfaatkan warga di wilayah Kabupaten Maros untuk kolam ikan, sehingga suplai yang sampai ke instalasi pengolahan berkurang drastis,”

Jelas Wahidin. Untuk mengatasi ini, PDAM terpaksa mengambil langkah darurat: menambah suplai dari Sungai Moncongloe dengan pompa. Biasanya, langkah ini baru dilakukan puncak kemarau, Agustus atau September. Tapi tahun ini, El Nino datang lebih cepat dan bertahan lama, memaksa mereka bergerak lebih awal.

Persoalan Pipa Tua dan Air yang 'Hilang'

Di sisi lain, persoalan teknis di lapangan tak kalah pelik. Jaringan pipa di wilayah utara, khususnya yang dekat pesisir, sudah uzur. Pipa galvanis punya usia terbatas, apalagi di daerah dengan kadar garam tinggi.

“Secara kasat mata mungkin terlihat baik, tapi bagian dalam pipa sudah mengalami korosi. Akibatnya, diameter pipa menyempit drastis sehingga menghambat aliran air,” ujar Wahidin.

Karat dan lumpu menumpuk, bahkan sampai ke meteran pelanggan. Akibatnya, distribusi jadi timpang. Rumah sebelah dapat air, tetangganya justru kering. Pertumbuhan penduduk yang pesat juga membebani pipa-pipa kecil yang dulu hanya melayani puluhan rumah. Sekarang, bebannya bisa dua kali lipat.

Solusinya? Penggantian pipa dengan diameter lebih besar atau menambah jalur baru. Sambil menunggu perbaikan permanen, PDAM mengerahkan 14 mobil tangki untuk membagi air gratis. Biasanya 20-30 rit per hari, tapi bisa melonjak sampai 100 rit saat kondisi benar-benar kritis.

Hasan, Kepala Seksi Humas PDAM, menambahkan sudut pandang lain. Ia menyoroti praktik pengambilan air ilegal yang masif.

Menurutnya, banyak warga membocori saluran untuk kebutuhan pribadi, seperti mengisi kolam atau tambak. Praktik inilah yang menyedot debit air, terutama di jalur distribusi sesi 5 hingga 7.

Andai saja kebocoran ilegal itu bisa dihentikan, kata Hasan, suplai air sebenarnya masih cukup aman. Ia berharap ada pengertian dari masyarakat. Sementara itu, upaya perbaikan dan penambahan sumber air baku terus diupayakan, meski tantangannya tak mudah.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags